Persaingan antar
perusahaan semakin ketat. Kemampuan perusahaan untuk mengendalikan
harga jual pun kini menjadi terbatas. Tidak lagi mudah bagi produsen
mematok laba yang tinggi dengan menaikkan harga. Sebab harga yang tinggi
membuat produk tersebut akan dijauhi oleh pembelinya. Pembeli akan
lebih beralih ke produk yang berkualitas baik,
namun berharga murah, serta mempunyai layanan purna jual cepat dan
mudah. Ironisnya, dengan kondisi pasar yang semakin sulit ini, manajemen
justru dituntut untuk meningkatkan laba perusahaan. Tidak ada pilihan
lain, bahwa tuntutan itu hanya bisa dilakukan jika perusahaan mampu
menurunkan biaya (cost reduction) dan menghilangkan proses-proses yang
tidak memberikan nilai tambah.
Berbicara nilai tambah, makin banyak perusahaan yang memanfaatkan teknologi informatika terkini untuk meningkatkan kemampuan dan strategi penetrasi pasar. Tak ketinggalan teknologi big data.

Karena itu, Duniaindustri.com,
sebuah startup khusus di segmen industri, berupaya untuk memfasilitas
hal tersebut dengan terus mengupdate database industri. Selain itu, Duniaindustri.com juga meningkatkan
pelayanan bagi pelanggan dan keamanan bertransaksi online dengan
mengadopsi teknologi "easy digital download". Dengan teknologi ini, user
atau pelanggan dapat dengan mudah bertransaksi serta mengakses database
industri secara lebih cepat, praktis, kapanpun dan di manapun berada.
Saat ini lebih dari 154 data historis industri dari
berbagai sektor industri manufaktur (tekstil, agro, kimia,
makanan-minuman, elektronik, farmasi, otomotif, rokok, semen,
perkapalan, dan lainnya), komoditas, pertanian, perkebunan, sumber daya
mineral, logistik, infrastruktur, properti, perbankan, reksadana, media,
consumer, hingga makro-ekonomi, menjadi kumpulan database di
duniaindustri.com.
Per awal April 2017, detektif industri juga
dilengkapi tools (instrumen analisis) untuk melakukan market
intelligence (competitor intelligence) dengan lebih terukur,
komprehensif, dan berkesinambungan. Duniaindustri.com juga
memperluas coverage basis data dan database spesifik guna menangkap
seluruh aktivitas industri di seluruh sektor usaha di Indonesia.

- Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani)
- Riset Populasi Jumlah Sepeda Motor 1950-2025 (Market Analysis Provinsi Paling Potensial)
- Database 1.452 Direktori Perusahaan Tekstil, Garmen, Pakaian, Handuk, Karpet Otomotif, Jaket, Peralatan Medis, dan lainnya
- Data Spesifik Industri Minuman Kesehatan 2015-2018
- Data Komprehensif Industri Perikanan dan Hasil Laut 2012-2017 (Tren Konsumsi Ikan & Peluang Pasar)
- Data dan Outlook Industri Beton Pracetak (Riset Tren Pasar 2008-2022)
- Data Cryptocurrency & Regulasinya di Indonesia (Sisi Positif & Negatif Bitcoin)
- Data dan Outlook Industri Perkapalan, Pelayaran, & Pelabuhan (Riset Tren Armada Kapal 2005-2020)
- Riset Tren Pertumbuhan Minimarket, Supermarket, Hypermarket 2015-2018 (Data Komprehensif 5 Market Leader Industri Ritel)
- Riset Tren Pasar Oli Motor Per Provinsi 2014-2016 (Proyeksi Market Size 2017)
- Data Transportasi, Infrastruktur, dan Logistik di Indonesia Timur (Skema Tol Laut)
- Riset Tren Pasar Obat Generik, Etikal, dan OTC 2012-2018 (Data Industri Healthcare)
- Riset Tren Pertumbuhan Industri Rokok 2005-2018 (Tren PangsaPasar Market Leader)
- Riset Tren Ekspansi Industri Semen 2015-2017 (Kajian Peta Kompetisi dan Strategi Penetrasi Pasar)
- Riset Eksklusif Industri Tinta Cetak (Printing Ink) 2008-2020 (Market Size and Demand Forecast)
- Riset Spesifik Market Size Industri Oli Pelumas (Tren Penjualan Dua Market Leader) new version
- Data dan Riset Eksklusif Industri Pipa Baja 2012-2018 (Demand Trends dan Market Leader)
- Data dan Kajian Pembangunan Infrastruktur 2015-2019 (Alternatif Pendanaan dan Skema Penjaminan)
Data dan Market Brief Industri Baja (Tren Pangsa Pasar dan Demand Growth 2016-2017)
Data dan Kajian Harga Jual Semen Per Wilayah (Analisis Pasar Semen di Indonesia Timur 2017-2020)
Data Komparasi Biaya Pokok Penyediaan Tenaga Listrik Per Wilayah (RUPTL 2017-2026)
Data Komprehensif Infrastruktur Jalan 2015-2019
- Riset Eksklusif Pasar Oli Pelumas Mobil Per Provinsi (Tren Pertumbuhan 2015-2017)
- Riset Persaingan Merek Mobil 2016 (Tren Penjualan Per Model dan Pangsa Pasar) Analisis Persaingan Industri Semen dan Tren Harga Jual 2017-2018
- Outlook Industri Consumer Goods 2017 dan Tren Harga Bahan Baku
Data dan Outlook Kebutuhan Energi di Sektor Industri 2015-2050
- Riset Tren Pertumbuhan dan Persaingan Pasar Semen (Analisis Pasar dan Outlook 2017-2018)
- Riset Peta Persaingan Merek Motor Per Provinsi (Tren Penjualan Per Tipe Motor)
- Riset Pasar dan Tren Harga Petrokimia 2009-2021 (Market Leader di Indonesia)
- Riset Tren Produksi Kelapa Sawit 2009-2017 (Analisis Pasar Ekspor CPO)
- Riset Infrastruktur Industri 2015-2019 (Peluang Basis Produksi Manufaktur 2017)
- Riset Pasar Seluler dan Data Industri Telekomunikasi 2010-2018 (Peta Persaingan dan Potensi Pertumbuhan)
- Riset Pasar dan Database 500 Perusahaan Tekstil (Data Industri Tekstil Hulu-Hilir)
- Riset Tren Produksi Market Leader Rokok 2005-2016 (Kompetisi Pasar dan Tren Konsumsi Rokok)
- Riset Tren Distribusi Sepeda Motor Per Wilayah (Data Penjualan Per Tipe Per CC Mesin)
- Riset Pasar dan Data Outlook Kosmetik 2009-2017 (Top 10 Perusahaan Kosmetik di Indonesia)
- Data Listrik dan Sistem Kelistrikan Nasional 2009-2019
- Riset Pasar dan Data Oli Pelumas Otomotif 2011-2016
- Riset Pasar dan Tren Harga Baja (Hulu-Hilir) 2010-2016
- Riset Pasar Ponsel, Komputer, dan Elektronik Home Appliance (Tren Market Size dan Pangsa Pasar)
- Riset Pasar dan Data Industri Sepeda Motor (Tren Penjualan Per Merek Per Daerah)

- Riset Pasar dan Data Industri Mobil (2005-2019)
- Riset Pasar dan Analisis Oversupply Semen (2016-2019)
- Riset Pasar Consumer Goods dan Tren Online Shopping (2009-2017)
- Riset Pasar dan Data Industri Biskuit 2010-2016 (Peta Persaingan dan Tren Market Leader)
- Riset Pasar dan Analisis Industri Kosmetik (Tren Pertumbuhan dan 5 Merek Paling Laris)
- Riset Pasar dan Analisis Peta Persaingan Industri Semen (NEW Version)
- Riset Eksklusif Industri Kemasan Plastik (Tren Pertumbuhan dan Analisis Cukai)
- Riset Eksklusif dan Data Industri Minyak Goreng Sawit (Tren Persaingan Market Leader)
- Riset dan Data Industri Pariwisata Indonesia 2010-2020
- Riset dan Analisis Eksklusif Farmasi (Tren Persaingan Obat Bebas, Generik, Herbal dan Daftar Obat Paling Laku)
- Riset Pasar Obat Bebas, Obat Generik, dan Obat herbal
- Data Industri Elektronik Home Appliances 2005-2015
- Riset Industri Manufaktur; Peluang Investasi dan Basis Produksi 2015-2019
- Riset Peluang Kerjasama Pemerintah dan Swasta di Proyek Infrastruktur 2015-2019
- Riset Tren Produksi Oleokimia dan Biodiesel 2011-2017
- Riset Persaingan Brand Rokok di Indonesia 2014-2016
- Riset Komprehensif Industri Baja 2007-2017
- Riset Peta Persaingan Industri Semen 2015-2017
- Data dan Analisis Industri Oli Pelumas 2007-2016
- Riset Komprehensif Industri Susu Olahan 2013-2016
- Data dan Outlook Industri Susu & Teh Siap Minum 2013-2016
- Data dan Outlook Industri Farmasi 2010-2019

- Data dan Outlook Industri Batubara 2011-2030
- Data dan Outlook Industri Semen 2003-2019
- Data dan Outlook Industri Rokok 2005-2016
- Data dan Outlook Industri Petrokimia 2009-2016
- Data dan Outlook Transportasi, Logistik, dan Infrastruktur 2009-2019
- Data Industri Minimarket, Supermarket, Hypermarket, dan Modern Trade di Indonesia 2012-2015
- Data dan Outlook Industri Oleokimia dan Biodiesel 2015-2016
- Data dan Outlook Industri Consumer Goods 2016
- Tren Fashion dan Data Industri Tekstil
- Data industri sepeda motor dan velg motor di Indonesia
- Outlook Industri Otomotif 2016-2018
- Outlook Industri CPO 2016
- Data Pasar Surat Utang di Indonesia dan ASEAN
- Data Kejatuhan Harga Komoditas Ekspor Indonesia dan Depresiasi Rupiah
- Data Investasi, Insentif, serta Kawasan Ekonomi Khusus Perkebunan Sawit 2010-2015

- Data Luas Lahan Sawit, Produksi, serta Ekspor CPO 2009-2015
- Data dan Analisis Industri Elektronik Menghadapi ASEAN Community
- Data dan Analisis Industri Pakan Ternak dan Perunggasan 2007-2017
- Data dan Analisis Industri Baja Periode 2000-2014
- Data Investasi Baru, Kapasitas, serta Tren Penjualan Semen 2013-2017
- Data Market Insight Private Equity di Asia Tenggara
- Data Hilirisasi Industri Sawit, dari Regulasi hingga Persebaran Investasi
- Data Sumberdaya Batubara, Tren Harga, serta Biaya Produksi per Ton
- Data Industri Semen di Asia Tenggara, Pangsa Pemain, dan Pertumbuhan Pasar
- Data Industri Properti dan Perbandingan Harga di Indonesia
- Data Industri Perbankan, Reksadana, Asuransi, dan Multifinance di Indonesia
- Data Industri Televisi Berlangganan di Indonesia
- Data Industri Media dan Belanja Iklan di Indonesia
- Data Industri Angkutan Darat (Taksi) di Indonesia
- Data Tingkat Kepemilikan dan Minat Beli Mobil di Indonesia
- Data Energi Terbarukan (Sawit dan Biofuel) Indonesia
- Data Perkebunan Sawit dan Produsen Hilir Terbesar Dunia

- Data Outlook Pasar Minyak Nabati China
- Data Perubahan Iklim Terkait Sektor Perkebunan di Indonesia
- Data Outlook Sektor Transportasi dan Logistik 2014-2018
- Data Pasokan dan Permintaan Batubara Termal Global
- Data Pasar Minimarket dan Restoran Cepat Saji di Indonesia
- Data Produksi, Defisit Pasokan, serta Harga Timah
- Data Penjualan Per Merek Mobil
- Data dan Analisis Outlook Industri Otomotif
- Data dan Analisis Penjualan Motor dan Mobil (LCGC)
- Data Strategi Pengembangan Sawit dan Batubara di Indonesia
- Data Industri Perkapalan Indonesia
- Data Penjualan Mobil Per Segmen Kendaraan
- Data Produksi, Ekspor, dan Investasi 15 Komoditas Utama Indonesia
- Data Komprehensif Industri Otomotif dan Kebijakan Pemerintah

- Data Tren Harga dan Produksi Minyak Nabati Utama
- Data Keseimbangan Pasokan-Kebutuhan Sawit dan Dampaknya ke Harga
- Data Komprehensif Industri Biofuels dan Produk Hilir CPO
- Data Industri Petrokimia, Kimia Dasar, dan Logam Dasar
- Data Daya Saing Industri Indonesia di Asean Community 2015
- Data Prospek Investasi dan Kebutuhan Lahan Kawasan Industri
- Data Industri Makanan-Minuman dan Program Hilirisasi
- Data Komprehensif Sasaran, Fokus, dan Kinerja Industri Pengolahan
- Data Komprehensif Industri Baja di Indonesia
- Data Peranan Industri Sawit sebagai Penghasil Devisa Ekspor
- Data Daya Saing Industri dilihat dari Sistem Logistik Nasional
- Data Segmentasi dan Jumlah Konsumen Kelas Menengah di Indonesia (2012-2030)
- Data Industri Batubata (Brick) di Indonesia dan Malaysia
- Data Investasi Infrastruktur, Proyek Pembangunan Pelabuhan, Jalan, Bandara, Kereta Api di Indonesia

- Data Masterplan Konektivitas Nasional (2010-2030)
- Data Konsumsi dan Impor Susu di Indonesia (periode lima tahun terakhir)
- Data Komparasi Konsumsi Semen dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (10 tahun terakhir)
- Data Produksi dan Ekspor-Impor Industri Aneka
- Data Komprehensif Industri Farmasi Indonesia (Periode Lima Tahun Terakhir)
- Data Komprehensif Sistem Logistik Nasional (Sislognas) Indonesia
- Data Komprehensif Industri Tekstil Indonesia (periode tiga tahun terakhir)
- Data Top 20 Produsen Obat Generik di Indonesia
- Data Pasar Kosmetik Indonesia (periode empat tahun terakhir)
- Data Volume dan Nilai Ekspor CPO, Tarif Bea Keluar, HPE
- Data Omzet dan Top 10 Player Industri Makanan-Minuman
- Data Pasar Alat Kesehatan di Asia Pasifik
- Data Produksi dan Utilisasi 4 Produsen Kertas Terbesar di Indonesia
- Data Pangsa Pasar Top 10 Perusahaan Benang dan Serat
- Data Industri Alat Musik, Mainan, dan Perhiasan

- Data Permintaan Baja di Indonesia (sepuluh tahun terakhir)
- Strategi Ekspansi dan Kapasitas Produksi BUMN Semen Terbesar
- Data Produksi Gula, Tebu, dan Area Lahan
- Data Buyer Agent Tekstil Terbesar dan Representative Office di Indonesia
- Data Jumlah Kendaraan Bermotor, dan Panjang Jalan di Indonesia
- Data Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Berdasarkan Jenis
- Data Pangsa Pasar Lima Produsen Ban di Indonesia
- Data Produksi dan Ekspor-Impor Industri Aneka
- Data Penjualan dan Pangsa Pasar 4 Perusahaan Rokok Terbesar

- Data Pasar Farmasi di Asia Pasifik
- Data Belanja Alat Kesehatan di Indonesia
- Data Kapasitas dan Utilisasi Industri Aneka
- Kajian Komprehensif Tiga Pemimpin Pasar Semen Indonesia
- Kajian Komprehensif Industri Kertas di Indonesia
- Data Produksi dan Pangsa Pasar 4 Pemimpin Pasar Baja Canai Panas (HRC)
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 154 database, klik di sini
*** Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
**** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
Industri
perkebunan kelapa sawit Indonesia memiliki peranan penting di dunia
mengingat negeri ini merupakan produsen dan eksportir minyak sawit
mentah (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia. Untuk mengetahui
seluk-beluk industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia, duniaindustri.com menghimpun sedikitnya 18 riset dan data industri perkebunan kelapa sawit.
Mari simak ulasannya di bawah ini:
1) Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani)
2) Riset Tren Produksi Kelapa Sawit 2009-2017 (Analisis Pasar Ekspor CPO)
3) Riset Eksklusif dan Data Industri Minyak Goreng Sawit (Tren Persaingan Market Leader)
4) Riset Tren Produksi Oleokimia dan Biodiesel 2011-2017
5) Data Outlook Industri Oleokimia dan Biodiesel 2015-2016
6) Outlook Industri CPO 2016
7) Data Investasi, Insentif, serta Kawasan Ekonomi Khusus Perkebunan Sawit 2010-2015
8) Data Luas Lahan Sawit, Produksi, serta Ekspor CPO 2009-2015
9) Data Hilirisasi Industri Sawit, dari Regulasi hingga Persebaran Investasi
10) Data Perkebunan Sawit dan Produsen Hilir Terbesar Dunia
11) Data Outlook Pasar Minyak Nabati China
12) Data Perubahan Iklim Terkait Sektor Perkebunan di Indonesia
13) Data Strategi Pengembangan Sawit dan Batubara di Indonesia
14) Data Tren Harga dan Produksi Minyak Nabati Utama
15) Data Keseimbangan Pasokan-Kebutuhan Sawit dan Dampaknya ke Harga
16) Data Komprehensif Industri Biofuels dan Produk Hilir CPO
17) Data Peranan Industri Sawit sebagai Penghasil Devisa Ekspor
18) Data Volume dan Nilai Ekspor CPO, Tarif Bea Keluar, HPE
Berikut ini uraian singkat dari masing-masing data di atas:
1) Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani) ini dirilis pada awal Mei 2018 menampilkan data, analisis, dan outlook
industri perkebunan kelapa sawit Indonesia, dari mulai tren produksi,
tren ekspor, perkembangan luas lahan, tren produktivitas, mata rantai
industri kelapa sawit, dan lainnya. Dalam data kali ini ditampilkan juga
overview kebijakan ataupun pandangan Eropa yang menjadi salah satu pasar utama.
Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani) ini dimulai dengan menampilkan executive summary.
Dalam executive summary dipaparkan terkait isu Eropa yang menjadi
hangat di kalangan pelaku usaha kelapa sawit karena masifnya kampanye
negatif dan rencana pembatasan penggunaan minyak sawit, yang diduga
sebagai ekses dari persaingan minyak nabati global. Dalam bagian pertama
(halaman 2 sampai 16), ditampilkan perkembangan pandangan Eropa
terhadap bisnis kelapa sawit di Indonesia.
Pada halaman 3,
ditampilkan kerangka pemikiran yang berkembang di Eropa, dari mulai isu
lingkungan dan deforestasi, tren perdagangan kelapa sawit di Eropa,
standar bagi petani kelapa sawit, serta suistanable development goals
(SDG). Pada halaman 4, ditampilkan data tabel terkait produksi kelapa
sawit di Indonesia, demand (konsumsi), ekspor, dan keseimbangannya pada
periode 2010 sampai 2015, 2020, dan 2025. Angka produksi dan ekspor
diestimasikan tumbuh dua kali lipat dalam 15 tahun tersebut, ditopang
kenaikan tajam ekspor.
Pada halaman 5, ditampilkan data tabel
terkait pergerakan nilai perdagangan kelapa sawit ke Eropa, khususnya
untuk kelapa sawit untuk pangan dan industri, periode 2008 sampai 2017.
Tarif impor di Eropa cenderung sangat rendah dan tidak terdapat hambatan
nontarif.
Selanjutnya, Pada halaman 6, disajikan data proyeksi
konsumsi minyak nabati (vegetable oil) dunia untuk periode 2015-2050,
yang pertumbuhannya diekspektasi berkisar 2%-3% per tahun. Dari data
tersebut, di-breakdown berdasarkan pasar utamanya yakni India,
Eropa, China, dan Pakistan. Data tersebut didukung dengan data
perbandingan luasan lahan, produksi, serta produktivitas 4 minyak nabati
utama, yakni soybean, sunflower, rapeseed, dan kelapa sawit (palm oil).
Pada
halaman 7, ditampilkan grafis tentang luas lahan kelapa sawit di
Indonesia sejak 1978-2017, lengkap dengan komposisi milik petani, BUMN,
dan swasta. Data ini juga didukung dengan tren pergerakan CPO yield
sejak 2005-2015 untuk perusahaan swasta dan petani sawit.
Berikutnya, pada halaman 8 sampai 12, dipaparkan perkembangan terbaru di pasar Eropa, antara lain inisiatif
Parlemen Eropa untuk mengecualikan biofuels berbasis sawit dalam
program energi terbarukan, penghentian bea masuk anti dumping, serta
pelacakan kelapa sawit dengan standar keberlanjutan. Pada halaman 13
ditampilkan infografis terkait pemetaan hutan dan lahan lainnya di
Indonesia dalam konteks bebas deforestasi. Pada halaman 14 sampai 17,
disajikan data-data konversi lahan di Indonesia periode 2000-2015,
konflik yang terjadi, dan hal lainnya.
Masuk ke pembahasan selanjutnya, pada halaman 18 hingga 30, dipaparkan tentang sejumlah kajian
yang dilakukan Komisi Eropa terkait isu lingkungan, deforestasi, dan
peran petani sawit di Indonesia. Juga diulas secara mendalam terkait
perbandingan 4 sertifikat utama di kelapa sawit yakni ISCC
(International Sustainability Carbon Certification), RSPO, ISPO, dan
MSPO. Pada halaman 30, disajikan data tabel terkait peningkatan jumlah
tenaga kerja di sektor kelapa sawit di Indonesia periode 2000-2015 untuk
segmen pemilik lahan dari petani, BUMN, dan swasta. Pada halaman 31,
ditampilkan data perbandingan pendapatan sebelum dan sesudah
perkembangan perkebunan kelapa sawit, menyesuaikan dengan studi high
carbon stock.
Selanjutnya, pada halaman 31 ditampilkan data
perubahan pendapatan dari perkebunan kelapa sawit di 3 kawasan, yakni
Indonesia, Malaysia, dan Afrika Barat. Pada halaman 34, ditampilkan tren
perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak terpengaruh harga di pasar
internasional periode 1988-2014. Sementara di halaman 35-37, ditampilkan
data perbandingan kebutuhan lahan dari 4 jenis minyak nabati utama.
Pada halaman 38 hingga 48, diulas tentang profil industri
kelapa sawit di Indonesia, nilai ekspor, jumlah tenaga kerja, komposisi
petani skala besar dan skala kecil serta program energi terbarukan.
Juga ditampilkan infografis pemetaan lahan petani kecil sawit di
sejumlah wilayah di Indonesia, komposisi lahan, peran petani kecil dalam
ekspansi lahan, profil petani kecil sawit, program peremajaan lahan,
serta target program replanting per daerah periode 2017-2022.
Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani)
ini berisi sebanyak 48 halaman berukuran 10,3 MB, berasal dari berbagai
sumber antara lain regulator di Indonesia, BPS, BKPM, kementerian
terkait (Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian
Perindustrian), serta asosiasi industri, seperti Gabungan Pengusaha
Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Komisi Uni Eropa, FAO, diolah duniaindustri.com. Data ini disajikan 95% dalam bahasa Inggris dan hanya 5% dalam bahasa Indonesia.
Indeks database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com
yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh
data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users
melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik
checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)
Sumber: klik di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 154 database, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
2) Riset Tren Produksi Kelapa Sawit 2009-2017 (Analisis Pasar Ekspor CPO) ini dirilis pada awal Januari 2017 menampilkan data, analisis, dan outlook industri
perkebunan kelapa sawit Indonesia, dari mulai tren produksi, tren
ekspor, perkembangan luas lahan, tren produktivitas, mata rantai
industri kelapa sawit, dan lainnya.
Riset Tren Produksi Kelapa Sawit 2009-2017 (Analisis Pasar Ekspor CPO) ini
dimulai dengan menampilkan tren produksi minyak sawit mentah (crude
palm oil/CPO) Indonesia periode 2009-2017F beserta komposisi produksi
rakyat, BUMN, dan swasta pada halaman 2. Data tersebut diperkuat dengan
komparasi produksi dan ekspor CPO Indonesia periode 2008-2018 dengan
skenario optimis pada halaman 3.
Pada
halaman 4, dipaparkan analisis singkat tentang proyeksi produksi CPO
Indonesia 2017, faktor-faktor yang mempengaruhi yakni tren ekspor dan
mandatori biodiesel, serta estimasi harga per ton. Pada halaman 5,
ditampilkan tren mandatori bioethanol dan biodiesel periode 2013-2025
menurut regulasi terkini, dilengkapi dengan alur proses biodiesel pada halaman 6, serta analisis penyerapan biodiesel pada 2016.
Masih
terkait biodiesel berbasis kelapa sawit, pada halaman 8-9 ditampilkan
tren kapasitas produksi biodiesel, konsumsi domestik, dan ekspor periode
2015-2017, serta estimasi peralihan impor diesel dengan biodiesel
berbasis kelapa sawit hingga 2025.
Berlanjut
ke halaman 10, ditampilkan luas lahan kelapa sawit di Indonesia periode
2009-2017F, berdasarkan komposisi BUMN, rakyat, dan swasta. Riau,
Sumatera Utara, dan Kalimantan menjadi provinsi dengan lahan sawit
terluas di halaman 11. Data tersebut diperkuat dengan tren komposisi
penguasaan lahan kelapa sawit di Indonesia pada halaman 12. Kemudian,
produktivitas CPO Indonesia ditampilkan berdasarkan kepemilikan lahan
pada halaman 13.
Pada
halaman 14 dijabarkan tren volume ekspor dan nilai ekspor CPO pada
periode 2009-2017F. Dilanjutkan dengan tren produksi inti sawit di
Indonesia periode 1986-2014, berdasarkan komposisi kepemilikan lahan
pada halaman 15. Mata rantai industri sawit yang menaungi 2 juta unit
usaha perkebunan keluarga, 1.320 perusahaan perkebunan, 74 industri minyak goreng, 37 industri oleokimia, dan lainnya ditampilkan pada halaman 16.
Selain
itu, target pengembangan industri CP0 Indonesia hingga 2030 serta tren
perkembangan industri sawit modern dijabarkan pada halaman 17-18.
Dilanjutkan dengan pemetaan kawasan khusus industri kelapa sawit di
Indonesia pada halaman 19.
Pada
halaman 20-21, dijabarkan sejarah perkembangan industri CPO Indonesia
menjadi produsen terbesar di Indonesia, dilengkapi tren investasi pada
halaman 22-23, tren produktivitas berdasarkan luas lahan pada halaman
24, serta tren peningkatan nilai tambah pada halaman 25. Pada halaman
26-27 dijelaskan masing-masing asosiasi industri yang menaungi industri
ini dari hulu-hilir.
Pada
halaman 28 ditampilkan tren produksi oleokimia periode 2004-2015,
disusul tren produksi pengolahan CPO, fractionation, modification pada
halaman 29, profil produksi biodiesel pada halaman 30, dan profil
industri CPO hulu-hilir pada halaman 31.
Kemudian,
pada halaman 32-45 ditampilkan analisis pasar ekspor CPO Indonesia di
Amerika Serikat, mulai dari perkembangan pangsa pasar CPO Indonesia di
pasar AS, perbandingan dengan pangsa pasar CPO Malaysia, tren volume
impor minyak nabati AS periode 2010-2014, perkembangan pangsa volume
impor empat jenis minyak nabati di AS periode 2010-2014, perkembangan
harga empat jenis minyak nabati di AS periode 2010-2014, perkembangan
nilai impor 15 komoditas minyak nabati di pasar AS, hingga regulasi
tarif bea masuk minyak nabati di pasar AS.
Selain pasar AS, riset ini juga
menampilkan analisis pasar minyak nabati China. Pada halaman 46-53
ditampilkan analisis dan tren pasar minyak nabati China dari mulai, tren
impor soybean China periode 1992-2013, tren impor soybean di Taiwan,
China daratan, dan Taiwan daratan periode 1965-2013, tren impor minyak
sawit China periode 1996-2013, hingga pangsa pasar CPO Indonesia di
China periode 2002-2013.
Riset Tren Produksi Kelapa Sawit 2009-2017 (Analisis Pasar Ekspor CPO) sebanyak
54 halaman ini berasal dari berbagai sumber antara lain regulator di
Indonesia, BPS, BKPM, kementerian terkait (Kementerian Pertanian,
Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian), serta asosiasi
industri, seperti Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI),
Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), serta perusahaan
China, diolah duniaindustri.com. Indeks database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang
menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data
disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users
melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik
checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

3) Riset Eksklusif dan Data Industri Minyak Goreng Sawit 2005-2015 ini
menampilkan riset eksklusif, data, analisis, dan outlook industri
minyak goreng sawit di Indonesia, dari mulai tren produksi, tren
investasi, peningkatan kapasitas produksi, para pemain besar, persebaran
lokasi pabrik, tren market leader (pemimpin pasar berdasarkan merek dan
berdasarkan kapasitas produksi), serta berbagai informasi lain seperti
regulasi dan target 2030.
Di
halaman 7 dipaparkan dalam chart tentang peta penyebaran pabrik minyak
goreng di Indonesia. Sumatera Utara menjadi daerah dengan populasi
pabrik minyak goreng terbesar di Indonesia, mencakup 30,46% dari total
jumlah pabrik minyak goreng di negeri ini. Disusul Riau dengan 24,83%.
Pada
halaman 8, dipaparkan tren produksi minyak sawit goreng yang tumbuh 80%
dari 2011 ke 2014. Data tersebut dilengkapi dengan tren investasi, tren
pertumbuhan produksi, konsumsi, serta ekspor minyak goreng sawit
periode 2011-2017 (estimasi) pada halaman (9-10).
Duniaindustri.com membuat riset eksklusifterkait
pangsa pasar produsen minyak goreng sawit berdasarkan kapasitas
terpasang untuk periode 2013 dan 2015, lengkap dengan masing-masing
kapasitas 5 pemain terbesar (halaman 11-13). Sementara pada halaman
14-15, duniaindustri.com membuat riset eksklusif terkait tren perubahan
pangsa pasar merek minyak goreng periode 2005-2015.(*)
4) Riset Tren Produksi Oleokimia dan Biodiesel 2011-2017 ini
menampilkan data, analisis, dan outlook industri oleokimia (fatty acid,
fatty alcohol, minyak goreng) serta biodiesel di Indonesia, dari mulai
tren produksi, tren investasi, peningkatan kapasitas produksi, para
pemain besar, persebaran lokasi pabrik, tren ekspor, impor, serapan
tenaga kerja, serta berbagai informasi lain seperti regulasi dan target
2030.
Riset
ini dimulai dengan tren kenaikan kapasitas produksi yang signifikan
pada empat industri, yakni refinery (fraksionasi) atau minyak goreng,
fatty acid, fatty alcohol, dan methyl ester (biodiesel). (halaman 2)
Pada
2014 dan 2015 terjadi peningkatan investasi yang signifikan di industri
oleokimia dan biodiesel hingga Rp 24 triliun yang mendorong kapasitas
produksi nasional tumbuh rata-rata 55% (minyak goreng 80%, fatty acid
47%, fatty alcohol 85%, dan methyl ester atau biodiesel 66%).
Duniaindustri.com secara eksklusif membuat riset tren produksi stearic
acid, glycerine, fatty acid, dan fatty alcohol dari 1995-2016. (halaman
3)
Data
tersebut kemudian dianalisis lebih mendalam pada halaman 4. Demikian
juga pada halaman 5 dibuat riset khusus terkait tren produksi biodiesel
di Indonesia periode 2011-2016.
Untuk memperkuat riset tersebut, duniaindustri.com menampilkan
persebaran kapasitas produksi industri oleokimia di Indonesia, terutama
untuk produksi fatty acid, fatty alcohol, dan produk akhir. Fokus
persebaran industri oleokimia didominasi di Sumatera Utara. Total
kapasitas industri oleokimia di Indonesia mencapai 1,599 juta ton per
tahun. Terdapat 9 pemain besar di antaranya PT Musim Mas dengan
kapasitas 450 ribu ton per tahun, PT Ecogreen 419 ribu ton per tahun, PT
Wilmar Nabati Indonesia 132 ribu ton per tahun, lengkap dengan peta
lokasi masing-masing pabrik perusahaan tersebut.(*)

5) Data Outlook Industri Oleokimia dan Biodiesel 2015-2016 ini
menampilkan persebaran kapasitas produksi industri oleokimia di
Indonesia, terutama untuk produksi fatty acid, fatty alcohol, dan produk
akhir. Fokus persebaran industri oleokimia didominasi di Sumatera
Utara. Total kapasitas industri oleokimia di Indonesia mencapai 1,599
juta ton per tahun. Terdapat 9 pemain besar di antaranya PT Musim Mas
dengan kapasitas 450 ribu ton per tahun, PT Ecogreen 419 ribu ton per
tahun, PT Wilmar Nabati Indonesia 132 ribu ton per tahun, lengkap dengan
peta lokasi masing-masing pabrik perusahaan tersebut.
Data ini
juga menjabarkan peta persebaran industri biodiesel Indonesia periode
2014-2016. Pada 2014, total kapasitas industri biodiesel di Indonesia
mencapai 4,99 juta ton atau setara 5,67 juta kiloliter, dengan perincian
Riau dan Kepri 2,61 juta ton, Jawa Bagian Timur 1,57 juta ton, Jawa
Bagian Barat 364 ribu ton, dan daerah lain-lain 233 ribu ton. Terdapat
17 pemain skala besar di antaranya PT Wilmar Bioenergy Indonesia di Riau
dengan kapasitas 1,3 juta ton per tahun, PT Musim Mas di Medan dengan
kapasitas 235 ribu ton per tahun, PT Eterindo Whanatama Gresik dengan
kapasitas 80 ribu ton per tahun, PT Wilmar Nabati Indonesia di Gresik
(1,3 juta ton per tahun), PT Sumi Asih Oleochem di Bekasi (100 ribu ton
per tahun), PT Darmex Biofuels di Cikarang (150 ribu ton per tahun), dan
lainnya, lengkap dengan peta lokasi masing-masing pabrik.
Pada
2015, terjadi penambahan kapasitas biodiesel sebesar 2,32 juta ton per
tahun sehingga total kapasitas nasional naik menjadi 7,32 juta ton.
Terdapat 11 pemain skala besar yang melakukan penambahan kapasitas pada
2015 antara lain PT Oleokimia Sejahtera Mas di Dumai dengan kapasitas
500 ribu ton per tahun, PT Darmex Biofuels di Dumai sebesar 410.500 ribu
ton per tahun, PT Indo Biofuels Energy di Kalbar (100 ribu ton/tahun),
PT Permata Hijau Palm Oleo di Medan (140 ribu ton/tahun), PT Nusa Energy
di Kaltim (100 ribu ton/tahun), PT Bits Energy di Kaltim (100 ribu
ton/tahun), PT Multi Biofuel Indonesia di Sulut (160 ribu ton/tahun).
(*)
6) Outlook Industri CPO 2016 menampilkan
proyeksi produksi CPO Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia pada
2016. Produksi CPO Indonesia pada 2016 diestimasi mencapai 35 juta ton,
tumbuh 9,3% dibanding proyeksi tahun ini 32 juta ton, menurut data
United State Department of Agriculture (USDA). Kenaikan tersebut akan
mendorong peningkatan produksi CPO global sebesar 5,96% menjadi 65,1
juta ton pada 2016 dibanding proyeksi tahun ini 61,44 juta ton.
Dengan
demikian, produksi CPO Indonesia tahun depan diperkirakan menyumbang
53,7% dari total produksi CPO global. Sementara Malaysia, produsen CPO
terbesar kedua setelah Indonesia, diperkirakan memproduksi CPO sebanyak
21 juta ton pada 2016, dengan kontribusi 32,25% terhadap pasar global.
Selain
itu, ditampilkan data proyeksi harga CPO dunia pada 2016, pengaruh
El-Nino dan sentimen program biodiesel. Serta, dampaknya terhadap
perkembangan ekspor dan tren permintaan global.
Juga
ditampilkan cakupan lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, dengan
komposisi provinsi terbesar berdasarkan kebun sawit. Luas lahan kebun
kelapa sawit di Indonesia pada 2015 diperkirakan mencapai 11,4 juta
hektare, dengan komposisi 5,9 juta hektare lahan swasta, 4,7 juta
hektare lahan rakyat, dan 0,8 juta hektare lahan BUMN.
Di
sisi lain, ditampilkan juga tren investasi di sektor hulu dan sektor
hilir industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia dalam lima tahun
terakhir, insentif investasi yang disiapkan pemerintah, serta proyeksi
tren ke depan. Tidak ketinggalan, dipaparkan kawasan industri khusus
industri kelapa sawit yang sedang dibangun pemerintah, target 2030, dan
tren mata rantai industri sawit modern.
Data sebanyak
21 halaman ini berasal dari berbagai sumber antara lain regulator di
Indonesia, BPS, BKPM, kementerian terkait, serta asosiasi industri,
diolah duniaindustri.com.(*)
7) Data Investasi, Insentif, serta Kawasan Ekonomi Khusus Perkebunan Sawit 2010-2015 ini
menampilkan realisasi investasi perkebunan kelapa sawit di Indonesia
2010-2015, baik PMA maupun PMDN, tren yang terjadi, serta dampaknya
terhadap produksi CPO nasional. Selain itu, dijabarkan insentif dan
posisi investasi perkebunan sawit dalam prioritas pemerintah.
Rata-rata
pertumbuhan realisasi PMA industri minyak sawit dalam 5 (lima) tahun
terakhir sebesar 140%, sedangkan perkebunan kelapa sawit sebesar 15%.
Rata-rata pertumbuhan realisasi PMDN industri minyak sawit dalam 5
(lima) tahun terakhir sebesar 145%, sedangkan perkebunan kelapa sawit
sebesar 1,3%.
Untuk
menopang pertumbuhan investasi, pemerintah akan membangun 8 kawasan
ekonomi khusus di industri pengolahan kelapa sawit. Delapan KEK itu
tersebut di Maloy Batuta (557,34 hektare), Palu, Bitung, Morotai, Sei
Mangkei, Tanjung Lesung, dan Mandalika. Serta diulas bagaimana upaya
pemerintah untuk menyederhanakan perizinan di sektor perkebunan kelapa
sawit.
Data berjumlah
12 halaman ini berguna bagi investor, pemodal kelapa sawit, marketing,
peneliti dan periset, akademisi, praktisi, dan regulator. Data ini
berasal dari asosiasi industri, BKPM, BPS, dan diolah duniaindustri.com.
(*)
8) Data Luas Lahan Sawit, Produksi, serta Ekspor CPO 2009-2015 ini
menampilkan luas lahan perkebunan sawit tahun 2014 sebesar 10,9 juta
hektare. Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan merupakan provinsi dengan
lahan sawit terluas. Sekitar 51,6% dari 10,9 juta hektar lahan sawit di
Indonesia dimiliki oleh perusahaan perkebunan swasta (besar), dan 41.5%
dimiliki oleh perkebunan rakyat.
Produktivitas
CPO perkebunan rakyat dan BUMN menunjukkan tren penurunan dari tahun
2009-2014, sementara perusahaan perkebunan swasta justru meningkat.
Produktivitas CPO perkebunan rakyat juga 20% lebih rendah dibandingkan
perusahaan swasta.
Produktivitas
CPO rakyat pada tahun 2014 hanya sebesar 2,3 ton/ha, atau 20% di bawah
produktivitas CPO perusahaan perkebunan swasta. Dengan asumsi harga CPO
sebesar US$ 550/ton, peningkatan produktivitas CPO rakyat dari 2,3
ton/ha menjadi 2,9 ton/ha akan memberikan tambahan kesejahteraan sebesar
US$ 1 milyar kepada seluruh petani.
Selain
itu, data ini menampilkan kondisi perekonomian Indonesia 2015, mata
utang rupiah yang melemah terhadap dolar AS, posisi utang luar negeri
Indonesia, perbedaan krisis ekonomi 1997 dengan kondisi saat ini. Data
ini diperoleh dari sumber terkemuka, regulator, BPS, diolah duniaindustri.com. (*)
9) Data Hilirisasi Industri Sawit, dari Regulasi hingga Persebaran Investasi ini
menampilkan luas area kebun sawit di Indonesia 2011-2015, produksi CPO
nasional 2011-2015, serta produktivitas kebun rakyat. Selain itu,
ditampilkan juga pohon industri pengolahan CPO, baik yang sudah
diproduksi di Indonesia maupun belum diproduksi. Juga dipaparkan
peningkatan nilai tambah dari CPO, CPKO, minyak goreng, margarine,
biodiesel FAME, confectionaries, fatty acid, fatty alcohol, surfaktan,
kosmetik. Serta dijelaskan skema pemberian insentif investasi di sektor
ini, seperti tax allowance, tax holiday, pembebasan bea masuk mesin,
restrukturisasi bea keluar, dan lainnya. Dampak dari program hilirisasi;
ragam Produk Hilir pada Tahun 2011 hanya 54 Jenis, berkembang menjadi
149 jenis pada awal tahun 2014 dan diperkirakan meningkat menjadi 169
jenis pada Tahun 2015. Juga ditampilkan persebaran investasi di industri
oleokimia (masing-masing perusahaan dan kapasitasnya), industri
biodiesel, serta proyeksi tambahan kapasitas biodiesel hingga 2015.
Sebaran
investasi industri oleokimia antara lain PT Musim Mas, PT Soci Mas, PT
Domba Mas, PT Flora Sawita, PT Sumi Asih, PT Ecogreen, PT Wilmar Nabati.
Sementara sebaran investasi industri biodiesel antara lain PT Darmex
Biofuels, PT Nusa Energy, PT Indo Biofuels Energy, PT Bits Energy, PT
Multi Biofuels, PT Permata Hijau Palm Oleo, PT Oleokimia Sejahtera Mas,
dan PT Wilmar Bioenergy Indonesia. Data berjumlah 18 halaman ini berasal
dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia,
Asosiasi Produsen Oleokimia, Gapki serta sejumlah produsen CPO terbesar
di Indonesia. (*)
10) Data Perkebunan Sawit dan Produsen Hilir Terbesar Dunia ini
menampilkan sejak 2012 Indonesia menjadi produsen minyak sawit mentah
(crude palm oil/CPO) terbesar dunia dan ditargetkan pada 2030 Indonesia
menjadi produsen terbesar dunia untuk oleofood, bio-oleokimia,
bio-energi, bio-lubricant, bio-surfactant, bio-detergent. Juga,
ditampilkan tren data produksi CPO Indonesia sejak 1980-2012/2013,
dengan dukungan jumlah perusahaan perkebunan sawit mencapai 1.320
perusahaan, 74 industri minyak goreng, 46 industri margarin shortening,
44 industri detergen dan sabun, 37 industri oleokimia, dan 20 industri
biodiesel. Dengan devisa ekspor yang besar mencapai US$ 21,3 miliar pada
2012, penerimaan negara dari bea keluar juga terus meningkat menjadi Rp
79,4 triliun di 2012. Pangsa pasar CPO Indonesia di dunia juga terus
naik dari 22% pada 1990, menjadi 30% pada 2000, dan 48% pada 2010.
Selain itu, dipaparkan data perbandingan produktivitas minyak nabati di
dunia dengan keunggulan CPO sebesar 4,27 ton/hektare. Data sebanyak 38
halaman ini berasal dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia
(Gapki) dan diolah duniaindustri.com. (*)
11) Data Outlook Pasar Minyak Nabati China ini
menampilkan impor soybean China terus meningkat dari 10.000 ribu ton
pada 1996 menjadi 65.000 ribu ton pada 2013/2014. China mulai defisit
soybean sejak 2003 karena produksi domestiknya tidak mencukupi
kebutuhan. Impor soybean China terus meningkat seperti kereta yang sulit
berhenti. Juga ditampilkan komposisi impor soybean China yang dilakukan
BUMN, swasta, dan perusahaan multinasional. Selain itu, dipaparkan
impor palm oil China dari sejumlah negara, terutama Indonesia. Impor
China untuk komoditas olein, stearin, dan PKO asal Indonesia
masing-masing sebesar 63%, 47%, dan 30%. Juga ditunjukkan tren impor
bulanan China untuk komoditas olein periode 2008-2013. Jumlah impor palm
oil China pada 2011/2012 mencapai 5.859 ribu ton, naik menjadi 6.589
ribu ton pada 2012/2013, dan diprediksi naik lagi menjadi 6.600 ribu ton
pada 2013/2014. Data sebanyak 25 halaman ini berasal dari makalah Jeffery (Jianfei) XU, Dongling Grain & Oil Co Ltd dan diolah duniaindustri.com. (*)
12) Data Perubahan Iklim Terkait Sektor Perkebunan di Indonesia ini
menampilkan teori perubahan iklim (climate change) termasuk peningkatan
emisi karbon di Indonesia, yang salah satunya disebabkan deforestasi
sekitar 13 juta hektare per tahun. Meski demikian, sektor perkebunan di
Indonesia mampu menghasilkan biodiesel sebagai salah satu alternatif
bahan bakar yang dapat diperbaharui. Data sebanyak 56 halaman ini
berasal dari makalah Dr. Edvin Aldrian APU, Director of the Center for
Climate Change and Air Quality Meteorology Climatology and Geophysics
Agency (BMKG) IPCC Working Group 1 AR 5 Lead Author dan diolah duniaindustri.com. (*)
13) Data Strategi Pengembangan Sawit dan Batubara di Indonesia ini
menampilkan strategi pengembangan dua komoditas utama Indonesia, yakni
kelapa sawit dan batubara, dikaitkan dengan Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Di antaranya
ditampilkan tulang punggung pengembangan industri minyak sawit mentah
(CPO) di empat daerah, yakni Sei Mangkei, Dumai, Kalimantan Barat, dan
Kalimantan Timur. Pengembangan industri hilir CPO di Sei Mankei karena
PT Unilever Indonesia dan Ferrostaal telah berinvestasi US$ 1 miliar.
Sedangkan pengembangan industri batubara diarahkan ke Sumatera Selatan
yang menyimpan 39% dari cadangan batubara nasional, sekitar 18,13 miliar
ton. Selain itu, ditampilkan 56 proyek MP3EI senilai US$ 29 miliar yang
diperinci per proyek, skema pendanaan, dan kaitannya dengan program
pemerintah. Data yang terdiri atas 21 halaman microsoft powerpoint ini
dibuat oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (KP3EI) dan diolah duniaindustri.com. (*)
14) Data Tren Harga dan Produksi Minyak Nabati Utama ini
menampilkan tren harga dari minyak nabati utama (sawit, soybean, dan
lainnya) periode 2008-2013. Selain itu ditampilkan data tujuan ekspor
CPO Indonesia ke dunia, antara lain India 47%, Malaysia 14%, dan
lainnya. Juga dibahas kendala dan tantangan industri CPO di Indonesia
serta perbandingan dengan soybean, meliputi impor soybean Indonesia,
harga soybean, produksi soybean dunia. Data yang terdiri atas 20 halaman
microsoft powerpoint ini dibuat oleh lembaga riset, dan praktisi
pertanian. (*)
15) Data Keseimbangan Pasokan-Kebutuhan Sawit dan Dampaknya ke Harga ini
menampilkan perbandingan produksi dan ekspor CPO di Indonesia
2008-2018. Selain itu, outlook produksi minyak mentah Indonesia
2009-2020 yang menampilkan potensi penurunan produksi, sementara
kebutuhan naik 4%-5% per tahun. Di 2020, impor minyak mentah Indonesia
bisa mencapai 1 juta barel per hari. Karena itu, Indonesia harus
mendiversifikasi produksi energi. Bagaimana caranya? Produksi biodiesel
mesti ditambah. Juga ditampilkan data skenario pengubahan minyak mentah
ke biodiesel. Data ini juga menggambarkan skenario untuk memproduksi 100
ribu barel minyak mentah diperlukan 5,25 juta ton CPO per tahun atau
5,8 juta kiloliter biodiesel dari 1 juta hektare lahan dan 1,57 juta
pekerja. Data yang terdiri atas 18 halaman microsoft powerpoint ini
dibuat oleh pelaku usaha dan produsen biodiesel dan diolah duniaindustri.com. (*)
16) Data Komprehensif Industri Biofuels dan Produk Hilir CPO ini
menampilkan perbandingan populasi, PDB per kapita, konsumsi minyak, di
Indonesia, AS, China, Eropa, dan Rusia. Selain itu, dijabarkan 100
produk turunan CPO serta kapasitas produksi pengolahan, fractionation,
dan modifikasi produk turunan CPO sejak 2011-2013. Ditampilkan juga
kapasitas produksi oleokimia (fatty alcohol dan fatty acid) periode
2004-201, kapasitas produksi biodiesel 2006-2013, proyeksi investasi
hingga US$ 2,7 miliar, regulasi mandatori biodiesel. Ekspor CPO juga
ditampilkan secara mendetail, dari mulai ekspor CPO, ekspor biodiesel,
serta komparasinya dengan kebutuhan domestik periode 2009-2013. Data
yang terdiri atas 20 halaman ini dibuat oleh Asosiasi Produsen Biofuel
Indonesia (Aprobi) dan diolah duniaindustri.com. (*)
17) Data Peranan Industri Sawit sebagai Penghasil Devisa Ekspor ini
menampilkan peranan industri minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO)
dalam struktur ekspor nasional, seiring terjadinya defisit neraca
perdagangan yang melemahkan rupiah terhadap dolar AS. Data yang berisi 9
halaman ini dilengkapi tabel dan grafis perkembangan nilai ekspor dan
volume ekspor CPO serta produk turunannya dalam sepuluh tahun terakhir.
Data ini berasal dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki),
BPS, dan Bank Indonesia. (*)
18) Data Volume dan Nilai Ekspor CPO, Tarif Bea Keluar, HPE ini
berisi tren volume dan nilai ekspor CPO dan produk turunannya, tarif
bea keluar, harga patokan ekspor, harga Rotterdam per bulan selama dua
tahun terakhir. (*)
Sumber: di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 154 database, klik di sini

Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani) ini dirilis pada awal Mei 2018 menampilkan data, analisis, dan outlook
industri perkebunan kelapa sawit Indonesia, dari mulai tren produksi,
tren ekspor, perkembangan luas lahan, tren produktivitas, mata rantai
industri kelapa sawit, dan lainnya. Dalam data kali ini ditampilkan juga
overview kebijakan ataupun pandangan Eropa yang menjadi salah satu pasar utama.
Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani) ini dimulai dengan menampilkan executive summary.
Dalam executive summary dipaparkan terkait isu Eropa yang menjadi
hangat di kalangan pelaku usaha kelapa sawit karena masifnya kampanye
negatif dan rencana pembatasan penggunaan minyak sawit, yang diduga
sebagai ekses dari persaingan minyak nabati global. Dalam bagian pertama
(halaman 2 sampai 16), ditampilkan perkembangan pandangan Eropa
terhadap bisnis kelapa sawit di Indonesia.
Pada halaman 3,
ditampilkan kerangka pemikiran yang berkembang di Eropa, dari mulai isu
lingkungan dan deforestasi, tren perdagangan kelapa sawit di Eropa,
standar bagi petani kelapa sawit, serta suistanable development goals
(SDG). Pada halaman 4, ditampilkan data tabel terkait produksi kelapa
sawit di Indonesia, demand (konsumsi), ekspor, dan keseimbangannya pada
periode 2010 sampai 2015, 2020, dan 2025. Angka produksi dan ekspor
diestimasikan tumbuh dua kali lipat dalam 15 tahun tersebut, ditopang
kenaikan tajam ekspor.
Pada halaman 5, ditampilkan data tabel
terkait pergerakan nilai perdagangan kelapa sawit ke Eropa, khususnya
untuk kelapa sawit untuk pangan dan industri, periode 2008 sampai 2017.
Tarif impor di Eropa cenderung sangat rendah dan tidak terdapat hambatan
nontarif.
Selanjutnya, Pada halaman 6, disajikan data proyeksi
konsumsi minyak nabati (vegetable oil) dunia untuk periode 2015-2050,
yang pertumbuhannya diekspektasi berkisar 2%-3% per tahun. Dari data
tersebut, di-breakdown berdasarkan pasar utamanya yakni India,
Eropa, China, dan Pakistan. Data tersebut didukung dengan data
perbandingan luasan lahan, produksi, serta produktivitas 4 minyak nabati
utama, yakni soybean, sunflower, rapeseed, dan kelapa sawit (palm oil).
Pada
halaman 7, ditampilkan grafis tentang luas lahan kelapa sawit di
Indonesia sejak 1978-2017, lengkap dengan komposisi milik petani, BUMN,
dan swasta. Data ini juga didukung dengan tren pergerakan CPO yield
sejak 2005-2015 untuk perusahaan swasta dan petani sawit.
Berikutnya, pada halaman 8 sampai 12, dipaparkan perkembangan terbaru di pasar Eropa, antara lain inisiatif
Parlemen Eropa untuk mengecualikan biofuels berbasis sawit dalam
program energi terbarukan, penghentian bea masuk anti dumping, serta
pelacakan kelapa sawit dengan standar keberlanjutan. Pada halaman 13
ditampilkan infografis terkait pemetaan hutan dan lahan lainnya di
Indonesia dalam konteks bebas deforestasi. Pada halaman 14 sampai 17,
disajikan data-data konversi lahan di Indonesia periode 2000-2015,
konflik yang terjadi, dan hal lainnya.
Masuk ke pembahasan selanjutnya, pada halaman 18 hingga 30, dipaparkan tentang sejumlah kajian
yang dilakukan Komisi Eropa terkait isu lingkungan, deforestasi, dan
peran petani sawit di Indonesia. Juga diulas secara mendalam terkait
perbandingan 4 sertifikat utama di kelapa sawit yakni ISCC
(International Sustainability Carbon Certification), RSPO, ISPO, dan
MSPO. Pada halaman 30, disajikan data tabel terkait peningkatan jumlah
tenaga kerja di sektor kelapa sawit di Indonesia periode 2000-2015 untuk
segmen pemilik lahan dari petani, BUMN, dan swasta. Pada halaman 31,
ditampilkan data perbandingan pendapatan sebelum dan sesudah
perkembangan perkebunan kelapa sawit, menyesuaikan dengan studi high
carbon stock.
Selanjutnya, pada halaman 31 ditampilkan data
perubahan pendapatan dari perkebunan kelapa sawit di 3 kawasan, yakni
Indonesia, Malaysia, dan Afrika Barat. Pada halaman 34, ditampilkan tren
perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak terpengaruh harga di pasar
internasional periode 1988-2014. Sementara di halaman 35-37, ditampilkan
data perbandingan kebutuhan lahan dari 4 jenis minyak nabati utama.
Pada halaman 38 hingga 48, diulas tentang profil industri
kelapa sawit di Indonesia, nilai ekspor, jumlah tenaga kerja, komposisi
petani skala besar dan skala kecil serta program energi terbarukan.
Juga ditampilkan infografis pemetaan lahan petani kecil sawit di
sejumlah wilayah di Indonesia, komposisi lahan, peran petani kecil dalam
ekspansi lahan, profil petani kecil sawit, program peremajaan lahan,
serta target program replanting per daerah periode 2017-2022.
Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani)
ini berisi sebanyak 48 halaman berukuran 10,3 MB, berasal dari berbagai
sumber antara lain regulator di Indonesia, BPS, BKPM, kementerian
terkait (Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian
Perindustrian), serta asosiasi industri, seperti Gabungan Pengusaha
Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Komisi Uni Eropa, FAO, diolah duniaindustri.com. Data ini disajikan 95% dalam bahasa Inggris dan hanya 5% dalam bahasa Indonesia.
Indeks database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com
yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh
data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users
melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik
checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)
Sumber: klik di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 154 database, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
Isu consensus global dalam standar keberlanjutan kelapa sawit dinilai membutuhkan upaya kolaborasi dari multistakeholders. Upaya kolaborasi akan mengurangi kesenjangan antara berbagai standar yang telah ada, sehingga memunculkan persamaan bersama.
Hal itu menjadi pembahasan dalam konferensi internasional
ICOPE 2018 sesi 11 di Nusa Dua Bali, Jumat (27/4). ICOPE 2018 sendiri
diselenggarakan selama tiga hari pada 25-27 April 2018, yang dihadiri
lebih dari 400 delegasi dari 30 negara. Di sesi ke-11 ICOPE 2018,
bertindak sebagai moderator adalah Alain Rival, Regional Director of
CIRAD, dan menghadirkan 5 pembicara yakni Michael Buki, European Union
Delegation to Indonesia, Tiur Rumondang, Director of Operations RSPO
Indonesia, Azis Hidayat, Head of the Secretariat ISPO, Stephen Krecik,
Co Founder Rainforest Alliance Indonesia, serta Andras Feige dari ISCC.
Alain
menjelaskan tujuan dari sesi ini untuk mendengarkan harapan dan solusi
yang diharapkan ke depan. “Solusi seperti apa dalam kondisi apa untuk
mencapai konsensus global dalam standar keberlanjutan kelapa sawit, ini yang kita diskusikan bersama,” katanya.
Stephen
Krecik menjelaskan konsensus standar mesti menjadi peluang pembelajaran
kolaboratif untuk peningkatan nilai.“Standar keberlanjutan itu seperti
reputasi. Bagaimana cara dikembangkan ke depan? Perlu upaya kolaboratif
untuk peningkatan nilai,” ucapnya.
Sementara Michael Buki menilai semakin banyak orang yang ikut diskusi dalam mewujudkan konsensus global dalam standar keberlanjutan kelapa sawit,
semakin bagus penerimaannya di pasar. “Perlu legitimasi dari berbagai
pihak, misalnya NGO, perlu konsolidasi ke pemerintah pusat, butuh
kolaborasi, bukan kompetisi.Ada banyak ruang untuk bertumbuh dan masih
banyak ruang untuk perbaikan,” ucapnya.
Michael
Buki juga menyoroti topik besar yakni kekhawatiran Uni Eropa melarang
masuknya sawit. Meski demikian, dia menilai pasar eropa itu cukup ramah
terhadap sawit. “Perdagangan tahun lalu 2,5 miliar euro, belum pernah
sebelumnya, pertumbuhan dua digit. Di sisi lain, ada dialog konstruktif
terkait iklim, lingkungan, dan perdagangan,” tuturnya.
Tahun
ini, lanjut dia, parlemen Eropa mempertimbangkan mengecualikan biofuel
berbasis sawit sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Tapi, Dewan Eropa
menyuarakan suara yang berbeda. Karena itu, saat ini parlemen, dewan,
komisi Eropa sedang melakukan dialog tiga arah. “Sejarah menunjukkan
kami tidak diskriminatif. Tapi betul, Eropa perhatikan betul deforestasi
dan sustainable development goals (SDG). Sudah ada indikasi sawit bukan
penyebab deforestasi terbesar. Kami coba memahami ekonomi sawit,”
paparnya.
Perhatian
utama Eropa, kata dia, saat ini lebih ditekankan pada penurunan emisi
dan degradasi hutan, kesepakatan Paris, terkait cara menurunkan emisi,
serta dukungan apa yang bisa diberikan. “Perhatian kami di Eropa,
produksi kelapa sawit RI terus meningkat, apakah sesuai dengan penurunan
emisi jangka panjang?” tanyanya.
Konsensus Global
Tiur Rumondang menilai untuk menuju konsensus global,
perlu adanya penggabungan beberapa standar berkelanjutan kelapa sawit
yang ada saat ini. “Ketika mau penggabungan beberapa standar, kita harus
lihat kesamaan. Mencari kesamaan ini menjadi tantangannya,” ujarnya.
Meski
demikian, Tiur menegaskan, pihaknya siap menggabungkan standar
berkelanjutan RSPO ke dalam ISPO. “Kami sudah mengakomodir peraturan
perundangan-undangan Indonesia,” paparnya.
Dia
menjelaskan, dalam mencari kesamaan antara standar yang ada, dibutuhkan
metodologi tertentu yang dapat menyatukan kesenjangan antara
standar-standar itu. “Dalam nilai keberlanjutan, kami dari RSPO sangat
menghargai multistakeholder. Transparansi juga sangat penting. Ini
menjadi kesenjangan. Makanya cukup sulit untuk menyatukan ini. RSPO dari
industri, yang satu lagi (ISPO) dari pemerintah,” ucapnya.
Sebagai
gambaran, lanjut dia, RSPO didirikan 2014.Tujuannya untuk menghasilkan
sawit berkelanjutan dengan pendekatan multistakeholders. RSPO saat ini
beroperasi di 9 negara. “Maret 2018, kami sudah mencakup 19% dari supply
CPO di seluruh dunia, atau 12,43 juta ton CPO,” paparnya.
Sementara
untuk ISPO, kata Azis Hidayat, sudah diberikan sertifikasi diberikan
kepada 342 perusahaan, 3 koperasi, 1 smallholders, mencakup 2,41 juta ha
dan produksi 8,75 juta ton sampai Desember 2017. “Total sertifikat ISPO
yang sudah diberikan mencapai 346,” ujarnya.
Pentingnya
ISPO karena Indonesia merupakan negara produsen sawit terbesar. Tujuan
ISPO sangat berbeda, yakni menegakkan peraturan pemerintah bagi rantai
pasok sawit, memposisikan sawit berkelanjutan sebagai posisi penting
bagi perekonomian, mendukung Indonesia untuk penurunan emisi rumah kata.
“ISPO
mengadopsi 16 Undang-undang termasuk prinsip internasional. Komisi ISPO
terdiri dari eselon 1 Kementan, juga Badan Standarisasi Nasional (BSN),
Gapki, DMSI, LSM, akademisi,” ucapnya.(in depth news)
Sumber: klik di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 153 database, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini