Rabu, 02 Mei 2018

Database Industri Kelapa Sawit Teraktual 2010-2025

Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani) ini dirilis pada awal Mei 2018 menampilkan data, analisis, dan outlook industri perkebunan kelapa sawit Indonesia, dari mulai tren produksi, tren ekspor, perkembangan luas lahan, tren produktivitas, mata rantai industri kelapa sawit, dan lainnya. Dalam data kali ini ditampilkan juga overview kebijakan ataupun pandangan Eropa yang menjadi salah satu pasar utama.

Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani) ini dimulai dengan menampilkan executive summary. Dalam executive summary dipaparkan terkait isu Eropa yang menjadi hangat di kalangan pelaku usaha kelapa sawit karena masifnya kampanye negatif dan rencana pembatasan penggunaan minyak sawit, yang diduga sebagai ekses dari persaingan minyak nabati global. Dalam bagian pertama (halaman 2 sampai 16), ditampilkan perkembangan pandangan Eropa terhadap bisnis kelapa sawit di Indonesia.

Pada halaman 3, ditampilkan kerangka pemikiran yang berkembang di Eropa, dari mulai isu lingkungan dan deforestasi, tren perdagangan kelapa sawit di Eropa, standar bagi petani kelapa sawit, serta suistanable development goals (SDG). Pada halaman 4, ditampilkan data tabel terkait produksi kelapa sawit di Indonesia, demand (konsumsi), ekspor, dan keseimbangannya pada periode 2010 sampai 2015, 2020, dan 2025. Angka produksi dan ekspor diestimasikan tumbuh dua kali lipat dalam 15 tahun tersebut, ditopang kenaikan tajam ekspor.

Pada halaman 5, ditampilkan data tabel terkait pergerakan nilai perdagangan kelapa sawit ke Eropa, khususnya untuk kelapa sawit untuk pangan dan industri, periode 2008 sampai 2017. Tarif impor di Eropa cenderung sangat rendah dan tidak terdapat hambatan nontarif.

Selanjutnya, Pada halaman 6, disajikan data proyeksi konsumsi minyak nabati (vegetable oil) dunia untuk periode 2015-2050, yang pertumbuhannya diekspektasi berkisar 2%-3% per tahun. Dari data tersebut, di-breakdown berdasarkan pasar utamanya yakni India, Eropa, China, dan Pakistan. Data tersebut didukung dengan data perbandingan luasan lahan, produksi, serta produktivitas 4 minyak nabati utama, yakni soybean, sunflower, rapeseed, dan kelapa sawit (palm oil).

Pada halaman 7, ditampilkan grafis tentang luas lahan kelapa sawit di Indonesia sejak 1978-2017, lengkap dengan komposisi milik petani, BUMN, dan swasta. Data ini juga didukung dengan tren pergerakan CPO yield sejak 2005-2015 untuk perusahaan swasta dan petani sawit.

Berikutnya, pada halaman 8 sampai 12, dipaparkan perkembangan terbaru di pasar Eropa, antara lain inisiatif Parlemen Eropa untuk mengecualikan biofuels berbasis sawit dalam program energi terbarukan, penghentian bea masuk anti dumping, serta pelacakan kelapa sawit dengan standar keberlanjutan. Pada halaman 13 ditampilkan infografis terkait pemetaan hutan dan lahan lainnya di Indonesia dalam konteks bebas deforestasi. Pada halaman 14 sampai 17, disajikan data-data konversi lahan di Indonesia periode 2000-2015, konflik yang terjadi, dan hal lainnya.

Masuk ke pembahasan selanjutnya, pada halaman 18 hingga 30, dipaparkan tentang sejumlah kajian yang dilakukan Komisi Eropa terkait isu lingkungan, deforestasi, dan peran petani sawit di Indonesia. Juga diulas secara mendalam terkait perbandingan 4 sertifikat utama di kelapa sawit yakni ISCC (International Sustainability Carbon Certification), RSPO, ISPO, dan MSPO. Pada halaman 30, disajikan data tabel terkait peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor kelapa sawit di Indonesia periode 2000-2015 untuk segmen pemilik lahan dari petani, BUMN, dan swasta. Pada halaman 31, ditampilkan data perbandingan pendapatan sebelum dan sesudah perkembangan perkebunan kelapa sawit, menyesuaikan dengan studi high carbon stock.

Selanjutnya, pada halaman 31 ditampilkan data perubahan pendapatan dari perkebunan kelapa sawit di 3 kawasan, yakni Indonesia, Malaysia, dan Afrika Barat. Pada halaman 34, ditampilkan tren perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak terpengaruh harga di pasar internasional periode 1988-2014. Sementara di halaman 35-37, ditampilkan data perbandingan kebutuhan lahan dari 4 jenis minyak nabati utama.

Pada halaman 38 hingga 48, diulas tentang profil industri kelapa sawit di Indonesia, nilai ekspor, jumlah tenaga kerja, komposisi petani skala besar dan skala kecil serta program energi terbarukan. Juga ditampilkan infografis pemetaan lahan petani kecil sawit di sejumlah wilayah di Indonesia, komposisi lahan, peran petani kecil dalam ekspansi lahan, profil petani kecil sawit, program peremajaan lahan, serta target program replanting per daerah periode 2017-2022.

Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani) ini berisi sebanyak 48 halaman berukuran 10,3 MB, berasal dari berbagai sumber antara lain regulator di Indonesia, BPS, BKPM, kementerian terkait (Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian), serta asosiasi industri, seperti Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Komisi Uni Eropa, FAO, diolah duniaindustri.com. Data ini disajikan 95% dalam bahasa Inggris dan hanya 5% dalam bahasa Indonesia.

Indeks database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

Sumber: klik di sini


* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 154 database, klik di sini
** Butuh 20 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
**** Butuh copywriter specialist, klik di sini
***** Butuh content provider, klik di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar