Selasa, 11 September 2018

160 Database Spesifik Sektor Industri di Indonesia

Per kuartal III 2018, tren industri cenderung berubah dengan sangat cepat, berdasarkan riset data Duniaindustri.com. Produk dengan harga jual yang lebih kompetitif, pelayanan prima, cepat sampai ke konsumen, serta kualitas wahid menjadi preferensi utama konsumen.

Selain itu, para pelaku industri cenderung memompa volume penjualan dengan mengorbankan harga jual. Singkat kata, harga jual boleh ditekan, tapi volume penjualan mesti bertumbuh. 


Di sisi lain, konsumen saat ini cenderung lebih memilih dalam berbelanja yang seperlunya, walaupun terjadi tren peningkatan dalam aktivitas pelesiran. Sementara upaya perbaikan pemerataan infrastruktur menjadi prioritas pemerintah dengan ratusan proyek di seluruh Indonesia. Demikian cuplikan tren yang sedang terjadi saat ini di negeri kita.


Persaingan antar perusahaan semakin ketat. Kemampuan perusahaan untuk mengendalikan harga jual pun kini menjadi terbatas. Tidak lagi mudah bagi produsen mematok laba yang tinggi dengan menaikkan harga. Sebab harga yang tinggi membuat produk tersebut akan dijauhi oleh pembelinya. Pembeli akan lebih beralih ke produk yang berkualitas baik, namun berharga murah, serta mempunyai layanan purna jual cepat dan mudah. Ironisnya, dengan kondisi pasar yang semakin sulit ini, manajemen justru dituntut untuk meningkatkan laba perusahaan. Tidak ada pilihan lain, bahwa tuntutan itu hanya bisa dilakukan jika perusahaan mampu menurunkan biaya (cost reduction) dan menghilangkan proses-proses yang tidak memberikan nilai tambah.

Berbicara nilai tambah, makin banyak perusahaan yang memanfaatkan teknologi informatika terkini untuk meningkatkan kemampuan dan strategi penetrasi pasar. Tak ketinggalan teknologi big data.


Karena itu, Duniaindustri.com, sebuah startup khusus di segmen industri, berupaya untuk memfasilitas hal tersebut dengan terus mengupdate database industri. Selain itu, Duniaindustri.com juga meningkatkan pelayanan bagi pelanggan dan keamanan bertransaksi online dengan mengadopsi teknologi "easy digital download". Dengan teknologi ini, user atau pelanggan dapat dengan mudah bertransaksi serta mengakses database industri secara lebih cepat, praktis, kapanpun dan di manapun berada.


Saat ini lebih dari 160 data historis industri dari berbagai sektor industri manufaktur (tekstil, agro, kimia, makanan-minuman, elektronik, farmasi, otomotif, rokok, semen, perkapalan, dan lainnya), komoditas, pertanian, perkebunan, sumber daya mineral, logistik, infrastruktur, properti, perbankan, reksadana, media, consumer, hingga makro-ekonomi, menjadi kumpulan database di duniaindustri.com.

Per awal April 2017, detektif industri juga dilengkapi tools (instrumen analisis) untuk melakukan market intelligence (competitor intelligence) dengan lebih terukur, komprehensif, dan berkesinambungan. Duniaindustri.com juga memperluas coverage basis data dan database spesifik guna menangkap seluruh aktivitas industri di seluruh sektor usaha di Indonesia.




Sumber: di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 160 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider, klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini


Database Riset Data Spesifik Lainnya:

Indonesian Milk Powder Database Research

Indonesia Milk Powder Specific Data Research (Market Size and Growth Trend) was released in the first week of September 2018 featuring independent research, comprehensive data, data market size, data market value, and trends in the growth of milk powder market in Indonesia. The discussion is done in enough detail so as to facilitate stakeholders to understand it and make it a reference for making future projections.

Indonesia Milk Powder Specific Data Research (Market Size and Growth Trend) 2012 until 2021 period begins with exposure to Indonesia’s macroeconomic data, inflation, and the rupiah exchange rate (pages 2 and 3). Followed by 2018 business outlook and prospects referring to the government’s economic growth target in 2018 on page 4.

Entered on page 5, explained the factors driving the growth of the milk powder market in Indonesia, ranging from the number of children divided into several segments according to age, growth trends, and regulatory challenges in this sector. On page 6, a chart of milk industry trees in Indonesia is displayed, starting from raw materials, namely raw milk (fresh milk) to three layers downstream.

Furthermore, moving on to a more detailed discussion, the Duniaindustri.com team dissected the market size (in tons) trend of the milk powder industry in Indonesia for the 2012-2021F period. This discussion is displayed in a table so as to facilitate reader understanding. The discussion includes 3 industrial segments of milk powder namely infant formula (milk powder for children aged 0-6 months), growth milk powder (milk powder for children aged 6 months to 3 years), as well as special needs milk powder (baby powder milk with lactose content low and formula milk for pregnant and lactating women). The discussion is carried out in detail by observing its growth trends, on pages 7 and 8.

From these data, then processed in market analysis on page 9. Segmentation of the milk powder industry is explained in more detail on page 10, along with their respective portions of the total market for milk powder in Indonesia.

On page 11, a pie chart is presented as a portion of 3 segments of the total milk powder market in Indonesia in the period of 2015. Followed later, on page 12, a pie chart is shown serving a portion of 3 segments of the total milk powder market in Indonesia in 2018F. With the comparison of the two diagrams, it is expected that the reader can understand the changes in the portion of each segment.

Not only that, the Duniaindustri.com team dissected the market value trend (in millions of rupiahs) of the milk powder industry in Indonesia for the 2012-2021F period. This discussion also includes 3 industrial segments of milk powder namely infant formula (milk powder for children aged 0-6 months), growth milk powder (milk powder for children aged 6 months to 3 years), as well as special needs milk powder (baby powder milk with low lactose levels and formula milk for pregnant and lactating women). The discussion is carried out in detail by observing its growth trends, on pages 13 and 14.

Especially on page 15, the Duniaindustri.com team also monitors the production trends of the infant formula segment for the 2015-2018F period. Followed later, market analysis of infant formula market consumption trends that affect national production trends, on page 16. Challenges for infant formula producers in the form of regulatory tightening are presented in market analysis on page 17. Also, the impact of tightening these regulations coupled with efforts to overcome them, in page 18.

Continues to the next discussion, on pages 19 to 28, shows the profile of the market leader of infant formula producers, complete with production trends in the last three years, production capacity profiles, and the advantages of the factory / production facilities. The level picture of powdered milk producers in Indonesia is shown on pages 29 and 30, detailed by the production segment of the type of milk powder produced.

On pages 31 to 33, the trend of market share of powdered milk in Indonesia is shown for the period 2011-2015. Followed by production trends and market value of the milk powder industry, which is a comparative data from the specific data research Duniaindustri.com

This Indonesia Milk Powder Specific Data Research (Market Size and Growth Trend) 2012 until 2021 period contains 38 pages of 3 MB in size, derived from independent research from Duniaindustri.com which is strengthened by data from BPS, the World Bank, Ministry of Health, as well as internal data from a number of milk producers powder. The industry data index is the latest feature at duniaindustri.com which displays dozens of selected data according to users’ needs. All data is presented in pdf form so it is easy to download after users process according to the procedure, which is click buy (purchase), click checkout, and fill in the form. Duniaindustri.com prioritizes the validity and validity of the data sources presented. Thank you for your trust in duniaindustri.com.(*)

Sumber: klik di sini


* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 160 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider, klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini


Database Riset Data Spesifik Lainnya:

Senin, 10 September 2018

Market Database Industri Susu Bubuk di Indonesia

Riset Data Spesifik Susu Bubuk 2012-2021 (Market Size dan Growth Trend) ini dirilis pada minggu pertama September 2018 menampilkan riset independen, data komprehensif, data market size, data market value, serta tren pertumbuhan pasar susu bubuk di Indonesia. Pembahasan dilakukan cukup detail sehingga memudahkan stakeholders untuk memahaminya serta menjadikannya acuan untuk membuat proyeksi ke depan.

Riset Data Spesifik Susu Bubuk 2012-2021 (Market Size dan Growth Trend) ini dimulai dengan paparan data makro ekonomi Indonesia, inflasi, dan nilai tukar rupiah (halaman 2 dan 3). Dilanjutkan dengan outlook dan prospek bisnis 2018 mengacu pada target pertumbuhan ekonomi pemerintah di 2018 di halaman 4.

Masuk pada halaman 5, dipaparkan faktor-faktor pendorong pertumbuhan pasar susu bubuk di Indonesia, mulai dari jumlah anak yang terbagi beberapa segmen sesuai usia, tren pertumbuhannya, serta tantangan regulasi di sektor ini. Pada halaman 6, ditampilkan diagram (chart) pohon industri susu di Indonesia dari mulai bahan baku yakni susu mentah (susu segar) hingga tiga lapisan ke hilir.

Selanjutnya, beranjak ke pembahasan lebih detail, tim Duniaindustri.com membedah tren market size (dalam ton) industri susu bubuk di Indonesia periode 2012-2021F. Pembahasan ini ditampilkan dalam tabel sehingga memudahkan pemahaman pembaca. Pembahasan meliputi 3 segmen industri susu bubuk yakni infant formula (susu bubuk untuk anak usia 0-6 bulan), susu bubuk pertumbuhan (susu bubuk untuk anak usia 6 bulan hingga 3 tahun), serta susu bubuk kebutuhan khusus (susu bubuk bayi dengan kadar laktosa rendah serta susu formula untuk ibu hamil dan menyusui). Pembahasan dilakukan secara terperinci dengan memperhatikan tren pertumbuhannya, pada halaman 7 dan 8.

Dari data tersebut, kemudian diolah dalam market analysis pada halaman 9. Segmentasi industri susu bubuk dijelaskan lebih rinci pada halaman 10, beserta porsinya masing-masing terhadap total pasar susu bubuk di Indonesia

Pada halaman 11, ditampilkan pie chart porsi dari 3 segmen terhadap total pasar susu bubuk di Indonesia pada periode 2015. Disusul kemudian, pada halaman 12, ditampilkan pie chart porsi dari 3 segmen terhadap total pasar susu bubuk di Indonesia pada periode 2018F. Dengan perbandingan dua diagram tersebut, diharapkan pembaca dapat mengerti perubahan porsi masing-masing segmen.

Tidak hanya itu, tim Duniaindustri.com membedah tren market value (dalam jutaan rupiah) industri susu bubuk di Indonesia periode 2012-2021F. Pembahasan ini juga meliputi 3 segmen industri susu bubuk yakni infant formula (susu bubuk untuk anak usia 0-6 bulan), susu bubuk pertumbuhan (susu bubuk untuk anak usia 6 bulan hingga 3 tahun), serta susu bubuk kebutuhan khusus (susu bubuk bayi dengan kadar laktosa rendah serta susu formula untuk ibu hamil dan menyusui). Pembahasan dilakukan secara terperinci dengan memperhatikan tren pertumbuhannya, pada halaman 13 dan 14.

Khusus pada halaman 15, tim Duniaindustri.com juga memonitor tren produksi dari segmen infant formula untuk periode 2015-2018F. Disusul kemudian, market analysis tren konsumsi pasar infant formula yang mempengaruhi tren produksi nasional, pada halaman 16. Tantangan bagi produsen infant formula berupa pengetatan regulasi dipaparkan dalam market analysis pada halaman 17. Serta, dampak dari pengetatan regulasi tersebut yang dibarengi upaya untuk mengatasinya, pada halaman 18.

Berlanjut ke pembahasan selanjutnya, pada halaman 19 sampai 28, ditampilkan profil market leader produsen infant formula, lengkap dengan tren produksi dalam tiga tahun terakhir, profil kapasitas produksi, serta keunggulan pabrik/fasilitas produksinya. Gambaran ringkat produsen susu bubuk di Indonesia ditampilkan pada halaman 29 dan 30, diperinci dengan segmen produksi dari jenis susu bubuk yang diproduksinya.

Pada halaman 31 sampai 33, ditampilkan tren pangsa pasar susu bubuk di Indonesia untuk periode 2011-2015. Dilanjutkan dengan tren produksi dan nilai pasar industri susu bubuk, yang merupakan data pembanding dari riset data spesifik Duniaindustri.com.

Riset Data Spesifik Susu Bubuk 2012-2021 (Market Size dan Growth Trend) ini berisi sebanyak 38 halaman berukuran 3 MB, berasal dari riset independen Duniaindustri.com yang diperkuat oleh data dari BPS, Bank Dunia, Kementerian Kesehatan, serta data internal sejumlah produsen susu bubuk. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

Sumber: klik di sini

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 160 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider, klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini


Database Riset Data Spesifik Lainnya:

Minggu, 09 September 2018

Tren Produksi Baja, Aspal, dan Alat Berat Catat Defisit Pasokan

Tiga produk yakni baja, aspal, dan alat berat yang selama ini digunakan proyek-proyek infrastruktur pemerintah diketahui mengalami defisit pasokan yang signifikan di pasar lokal. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono setelah mengevaluasi tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk proyek-proyek infrastruktur nasional.

Basuki Hadimuljono menjelaskan untuk produk baja tahun ini suplai (pasokan) nasional hanya sekitar 7 juta ton. Padahal, permintaan baja nasional sudah mencapai 14,41 juta ton. Selain baja, alat berat juga mengalami hal serupa, ketika pasokan dalam negeri hanya 4,48 juta unit, padahal permintaan nasional sudah mencapai 8,26 juta unit.

“Dan yang paling besar adalah aspal. Permintaan aspal nasional mencapai 1.872 ribu ton, tapi suplai nasional hanya 344,15 juta ton. Pernah dari pengalaman, kami butuh 80.000 ton, tapi (produsen) tidak sanggup,” kata Basuki di Jakarta, (4/9).

Dengan demikian, kondisi defisit pasokan tiga produk tersebut cukup signifikan. Baja defisit 7,41 juta ton atau 51,4% dari permintaan nasional. Sementara alat berat defisit 3,78 juta unit atau 45,7% dari permintaan nasional, dan aspal defisit 1.527 ribu ton atau 81,6% dari permintaan nasional.

Basuki Hadimuljono mengatakan, porsi bahan lokal untuk proyek Kementerian PUPR sudah mencapai 86,6%, sedangkan persentase impornya hanya 13,5%. Jika diperinci lagi proyek sumber daya air TKDN-nya mencapai 96,6%, proyek cipta karya 94,3%, bina marga 78,4% dan perumahan 76,6%. “Hanya tiga bahan baku yang produksi dalam negerinya lebih sedikit dari permintaan, yakni baja, aspal, dan alat berat,” ucapnya.

Dengan kata lain, ujarnya, jumlah komponen yang diimpor untuk proyek infrastruktur relatif kecil. Seperti diketahui, pemerintah sedang mengevaluasi proyek-proyek infrastruktur nasional untuk mengurangi produk impor demi menyelamatkan kurs rupiah yang sempat mendekati level terendah Rp 15.000/US$.

Bahkan pemerintah berencana menunda sejumlah proyek yang memiliki komponen impor besar atau TKDN kecil. Besarnya impor itu menyebabkan defisit transaksi berjalan yang pada akhirnya mempengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menerangkan peningkatan TKDN bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS. Dia telah menginstruksikan menteri-menteri terkait menyisir proyek apa saja yang perlu ditingkatkan komponen lokalnya (TKDN).

“Daftar proyek itu sedang disusun,” ungkap Wapres di kantornya. Adapun proyek-proyek itu terdapat  di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Perhubungan, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Pertamina.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pihaknya akan berupaya untuk mendirikan pabrik rel. Pasalnya, porsi impor yang masih banyak di proyek perhubungan itu ada di baja karena untuk rel. “Karena sekarang ini baja-bajanya masih impor semua,” tutur Budi. Apalagi proyek yang saat ini sedang dikerjakan Kemenhub adalah mass rapit transit (MRT) dan light rail transit (LRT).

“Bahan dari luar di bawah 40%, tapi ini yang akan saya manage nanti. Tapi butuh waktu 12 bulan atau 24 bulan yang akan datang, jadi kita kami me-manage itu dengan mendirikan pabrik rel,” ujar dia.(*)

Sumber: klik di sini

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 160 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider, klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini

Database Riset Data Spesifik Lainnya:

Rabu, 05 September 2018

Simak Data Terbaru Pengguna IoT Tranformasi Digital

Transformasi digital berbasis internet of things (IoT) makin meluas diterapkan di perusahaan-perusahaan di Indonesia hingga 2018. Berdasarkan survei enterprise yang dilakukan Asia IoT Business Platform 2018, sebanyak 91,1% perusahaan di Indonesia telah mengadopsi transformasi digital berbasis IoT.

Survei tersebut dilakukan terhadap 1.573 responden pada awal tahun ini. Hasil dari survey tersebut dipaparkan dalam Konferensi Asia IoT Business Platform edisi ke-25 di Jakarta pada akhir Agustus 2018 di The Ritz Carlton, Jakarta.

Menurut survey itu, hanya 8,6% pebisnis di Indonesia yang belum familiar dengan teknologi IoT pada 2018, turun dari 16% pada tahun lalu. Sebanyak 67,4% dari responden dalam survey itu merasa bahwa data analytic dan software business intelligence harus digunakan untuk meraih manfaat dari solusi IoT secara maksimal.

Survey tersebut juga mendapati bahwa 8,4% pebisnis betul-betul telah merasakan manfaat dari implementasi solusi IoT, naik dari 5,1% pada tahun lalu. “Asia IoT Business Platform adalah platform industri yang dinamis, yang semakin relevan dengan era masa kini, di mana transformasi digital telah menjadi sangat penting bagi bisnis di berbagai sector. IoT memainkan peranan penting dalam berbagai inisiatif transformasi digital dan Asia IoT Business Platform edisi ke-25 akan menghadirkan diskusi mendalam mengenai IoT dan memamerkan teknologi IoT terbaru, untuk membantu perusahaan di Negara ini mengadopsi strategi transformasi digital yang benar,” ujar Irza Suprapto, Direktur Asia IoT Business Platform dalam pembukaan konferensi Asia IoT Business Platform ke-25 di Jakarta.

Pada konferensi dua hari ini, para stakeholders kunci dalam industry IoT, termasuk pemerintah, penyedia solusi IoT, dan perusahaan pengguna akan berdiskusi tentang bagaimana menghadapi tantangan yang ada dan potensi IoT yang belum dieksplorasi oleh pebisnis di Indonesia. Sejumlah pembicara yang hadir dalam acara tersebut antara lain Semuel Abrijani Pangerapan, Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informasi, Dr Ir Ismail, Dirjen Sumber Daya & Perangkat Pos & Informatika Kemkominfo, Herfini Haryono, Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo, Diomedes Kastanis, Head Of IoT Singtel, dan Ravinder Mawa, CIO Sinar Mas Mining.

Beberapa topik penting diskusi yang disoroti dalam konferensi itu antara lain perkembangan implementasi IoT, permasalahan yang ada, solusi yang bisa digali, dan berbagai inisiatif yang dapat mendorong pengadopsian IoT di Indonesia. “Mau tidak mau kita harus mengadopsi teknologi digital berbasis IoT agar Indonesia bisa kejar ketertinggalan dari Negara maju,” ujar Semuel Abrijani Pangerapan, Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informasi.

Menurut dia, pemerintah dalam hal ini Kemenkominfo berfungsi sebagai fasilitator dan akselerator untuk menerapkan transformasi digital berbasis IoT terutama dalam program Making Indonesia 4.0. “Ini penting karena manfaatnya untuk seluruh pelaku bisnis dan industry, menciptakan efisiensi dan pemangkasan proses bisnis,” paparnya.

Memang harus disadari, perkembangan pesat teknologi digital telah menggiring landskap bisnis secara global ke tataran baru. Pergeseran pasar terutama didorong konsumen milenial makin hari makin terasa, sehingga menuntut perubahan paradigma di sektor industri.

Teknologi digital seperti IoT, big data, artificial intelligence makin mendisrupsi pasar. Pendekatan inovatif dengan memanfaatkan teknologi terkini terus berkembang pesat ditopang maraknya penggunaan aplikasi mobile.

Demikian juga di bidang internet off things (IoT) dan big data. Gabungan energi dan pola pikir inovatif yang dipadukan dengan teknologi IoT dan big data procesing membuat suatu tingkat kedalaman data yang belum pernah ada sebelumnya. Data-data tersebut kemudian diolah menjadi profil dan perilaku konsumen, trend pasar, prognosa masa depan serta berbagai data yang terstruktur dan tidak terstruktur lainnya. Tak terbatas, istilah inilah yang paling tepat untuk menggambarkan pendekatan analitik, mulai dari pemodelan statistik sampai machine learning dan deep learning.

Dari sisi data, para data scientist membantu mengembangkan analisis pemasaran baru yang mempertimbangkan metode dan pendekatan pada tingkat yang baru. Entah itu pengoptimalan harga real time pada tingkat yang paling rinci atau atribusi media untuk analisis offline yang tidak memungkinkan sebelumnya. Penekanan inovasi yang dibuat akan mendikte banyak metode untuk menentukan arah seputar riset pasar di masa depan.

Di Indonesia, perkembangan big data juga cukup pesat. Berbagai korporasi menyuguhkan layanan terbaiknya. Duniaindustri.com juga ikut berbenah dan menjelma sebagai startup layanan big data (riset pasar dan perusahaan analisis) di negeri ini.

Seiring kepercayaan yang makin meningkat, tim Duniaindustri.com juga terus berkembang dengan mencari metode-metode analisis baru, mensimulasikan pendekatan teraktual, mengkomparasi model skenario terkini, mengkalkulasikan teori-teori komprehensif, guna menghadirkan hasil riset data spesifik yang lebih riil, sesuai trend pasar, dan paling penting terjangkau bagi semua kalangan.

Perkembangan tersebut terlihat dari pertumbuhan jumlah database riset data spesifik yang telah ready di Duniaindustri.com, melonjak signifikan sebesar 30% dari 121 database riset pada akhir tahun lalu menjadi 159 database riset pada Agustus 2018. Hal ini dipicu makin meluasnya kebutuhan riset data spesifik guna mendukung pertumbuhan bisnis di sektor industri tertentu. Sebagai perbandingan, 1 dan 8 permintaan data spesifik terhubung dengan Duniaindustri.com.

Duniaindustri.com menyediakan indeks data industri yang bisa didownload user untuk memberikan gambaran atau acuan perkembangan sektor industri tertentu. Duniaindustri.com telah menangani puluhan proyek data hingga riset persaingan pasar dari perusahaan kecil, menengah, besar di Indonesia, terutama dari Jakarta, Bogor, Cikarang, Bandung, Yogya, Sidoarjo, Surabaya, Palu, Bali, Medan, dan daerah lainnya, bahkan dari China dan India.(*/tim redaksi 07/danang/safarudin)

Sumber: klik di sini

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 159 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider, klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini

Database Riset Data Spesifik Lainnya:

DPR Tolak Rencana Impor Beras

Rencana pemerintah untuk melakukan impor beras sebanyak 1 juta ton mendapat tentangan dari DPR RI. Penolakan tersebut datang dari Komisi IV (bidang pertanian) dan Komisi VI (bidang perdagangan).

Anggota Komisi VI DPR RI Sartono Hutomo menjelaskan jika DPR tidak melarang pemerintah melakukan kebijakan impor, namun hal tersebut harus sesuai dengan kebutuhan riil yang ada saat ini.

“Ketersediaan beras saat ini masih melimpah kenapa pemerintah kembali mewacanakan impor beras,” kata Sartono saat dihubungi, Rabu (29/8).

Sartono menjelaskan jika impor beras tetap dilakukan oleh pemerintah maka hal tersebut akan membuat harga beras yang dimiliki petani lokal juga akan mengalami penurunan secara drastis dan tentunya akan membuat para petani mengalami kerugian yang cukup besar.

“Petani lokal sudah dipusingkan dengan harga pupuk dan pemberantasan hama yang tinggi. Jika beras impor masuk maka mereka akan terbebani dengan persaingan harga murah dari beras impor yang masuk,” jelasnya.

Sartono juga menuturkan jika dibeberapa wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur stok beras masih sangat melimpah. Sehingga pemerintah tak perlu mewacanakan rencana impor beras tersebut.

“Komisi VI akan pertanyakan hal ini ke pemerintah. Nanti akan kami agendakan rencana tersebut,” jelasnya.

Di sisi lain Wakil Ketua Komisi IV DPR Roem Kono mewacanakan akan membuat rapat koordinasi dengan Komisi VI DPR. Rakor ini nantinya bertujuan untuk mencari solusi atas kebijakan impor beras yang akan dilakukan oleh pemerintab.

“Perlu adanya koordinasi antara komisi IV dan VI. Kami di DPR tidak ingin jika kebijakan impor tersebut berjalan dan merugikan petani serta konsumen,” ujar Roem.

Dia juga menuturkan jika kerugian yang dialami oleh petani adalah harga yang jatuh akibat persaingan harga, sementara kerugian bagi konsumen adalah kualitas impor yang dinilainya masih sangat buruk.

“Intinya jangan sampai masuknya beras impor ini membuat rugi petani dan masyarakat. Kalaupun stok beras masih melimpah untuk apa melakukan impor,” tegasnya.(*/)

Sumber: klik di sini

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 159 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider, klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini

Database Riset Data Spesifik Lainnya:

Minggu, 02 September 2018

Pre Order Buku Peta Persaingan Merk Otomotif

Duniaindustri.com sebagai salah satu startup terdepan di bidang layanan big data, riset data spesifik, dan riset pasar, membuka Pre Order Buku Kupas Tuntas Data Industri Otomotif (Mobil, Motor, dan Oli) 2015-2019.

Buku ini disusun oleh tim Duniaindustri.com yang diprakarsai oleh Andryanto Suwismo. Buku “Kupas Tuntas Data Industri Otomotif (Mobil, Motor, dan Oli) ini menampilkan data, informasi, tren pasar, peta persaingan antar brand, trend penjualan, market size dan market value, segmentasi pasar, hingga sejarah dan perkembangan terbaru di sektor otomotif. Dengan rekam jejak yang cukup panjang dibarengi proyeksi hingga 2019, buku ini layak menjadi acuan utama bagi pembaca secara luas, mulai dari tingkat sekolah menengah, sekolah tinggi, mahasiswa, pelaku industri otomotif, investor, sales dan marketing, business development, konsultan, brand manager, pemasok suku cadang otomotif, distributor komponen otomotif, dan masyarakat luas.

Penjelasan singkat spesifikasi buku itu antara lain memiliki ketebalan 120 halaman dengan cover hardkarton. Buku ini dibanderol dengan harga pre order Rp 225.000, dibanding harga normal (setelah pre order) yakni Rp 325.000, atau harga softcopy di indeks data industri sebesar US$ 200 atau setara Rp 2.800.000,-. Duniaindustri.com juga menyediakan paket menarik untuk menjadi reseller/distributor buku ini.

Waktu pre order berlangsung pada 1 September 2018 – 30 September 2018 dengan estimasi pengiriman mulai 1 Oktober 2018. Sebelum Anda melakukan pemesanan perlu diketahui ketentuan pemesanan sistem Pre Order melaui beberapa tahap berikut:

1. Sesi Order / Pemesanan
Saat tahap Order/Pemesanan berlangsung, silahkan menghubungi admin kami yakni Eka (HP & WA 081310891927) ataupun Uchy (HP & WA 087780767262). Kirim pesan ke admin kami. Jika sudah melakukan order/pemesanan, akan kami balas untuk konfirmasi.
Adapun format pemesanannya:
Nama Lengkap:
Alamat Lengkap:
No Hp & Whatsapp:
Alamat email:
Kuantiti Pesanan: (contoh 1 eksemplar)
Jasa Pengiriman: (JNE/POS/Ambil di Lokasi)

2. Sesi Pembayaran
Pembayaran dilakukan saat Anda telah mengisi format pemesanan dan memperoleh notifikasi dari admin kami. Anda bisa melakukan pembayaran dengan Transfer ke Rekening Kami. Jika Anda yang telah melakukan pembayaran, segera konfirmasi ke kontak kami.
Keterangan:
Pastikan data yang Anda masukkan benar saat transfer. Mohon wajib simpan bukti pembayarannya sampai barang sampai. (Jika terjadi kesalahan atau masalah saat transfer bukan tanggung jawab dari kami). Jadi Pastikan data anda benar saat mentransfer. Jika saat waktu pembayaran sudah tutup dan anda belum melakukan pembayaran, pesanan otomatis kami batalkan.

3. Sesi Produksi
Waktu Produksi Sudah kami cantumkan di Album Pre Order, silahkan langsung di cek.

4. Sesi Pengiriman
Setelah pengiriman barang dilakukan, Anda akan diberi sms konfirmasi jika barang sudah dikirim dan diberikan no resi pengiriman via agen yang sudah ditentukan. Lama pengiriman biasanya 3 – 4 hari (tergantung ketentuan dari Agen Pengiriman).
NB: Jika terjadi keterlambatan pengiriman yang disebabkan dari Pihak Agen Pengiriman (Tiki/JNE/PosIndonesia) di luar tanggung jawab kami oleh karena itu alamat yang diberikan harus benar dan lengkap. Tapi kami akan selalu memonitoring kiriman via website Agen Pengiriman tsb. Dan selalu memastikan barang sampai pada tujuan.

5. Sesi Konfirmasi
Jika barang sudah sampai ke Anda, harap Anda untuk memberi sms konfirmasi ke kami jika buku yang dibeli sudah diterima.

Catatan:
Kesalahan pengiriman karena salah alamat bukan tanggung jawab kami. Barang yang sudah dikirim tidak bisa ditukar atau diuangkan kembali, kecuali kesalahan dari pihak kami. Ongkos Kirim ditanggung pembeli.

Segera hubungi admin Duniaindustri.com:
081310891927 (eka)
087780767262 (uchy)

Atau Hubungi:
Tim Duniaindustri.com
Alamat : Ruko Griya Cinere 2 Blok 49 No 29 Jalan Cinere Raya, Jakarta Selatan (Desain Bagus Group) No Telpon : 021-22779565, 021-7447443 (*)

Sumber: klik di sini