Selasa, 01 Mei 2018

Kumpulan Database 153 Riset Data Industri di Indonesia

Persaingan antar perusahaan semakin ketat. Kemampuan perusahaan untuk mengendalikan harga jual pun kini menjadi terbatas. Tidak lagi mudah bagi produsen mematok laba yang tinggi dengan menaikkan harga. Sebab harga yang tinggi membuat produk tersebut akan dijauhi oleh pembelinya. Pembeli akan lebih beralih ke produk yang berkualitas baik, namun berharga murah, serta mempunyai layanan purna jual cepat dan mudah. Ironisnya, dengan kondisi pasar yang semakin sulit ini, manajemen justru dituntut untuk meningkatkan laba perusahaan. Tidak ada pilihan lain, bahwa tuntutan itu hanya bisa dilakukan jika perusahaan mampu menurunkan biaya (cost reduction) dan menghilangkan proses-proses yang tidak memberikan nilai tambah.

Berbicara nilai tambah, makin banyak perusahaan yang memanfaatkan teknologi informatika terkini untuk meningkatkan kemampuan dan strategi penetrasi pasar. Tak ketinggalan teknologi big data.


Karena itu, Duniaindustri.com, sebuah startup khusus di segmen industri, berupaya untuk memfasilitas hal tersebut dengan terus mengupdate database industri. Selain itu, Duniaindustri.com juga meningkatkan pelayanan bagi pelanggan dan keamanan bertransaksi online dengan mengadopsi teknologi "easy digital download". Dengan teknologi ini, user atau pelanggan dapat dengan mudah bertransaksi serta mengakses database industri secara lebih cepat, praktis, kapanpun dan di manapun berada.

Saat ini lebih dari 153 data historis industri dari berbagai sektor industri manufaktur (tekstil, agro, kimia, makanan-minuman, elektronik, farmasi, otomotif, rokok, semen, perkapalan, dan lainnya), komoditas, pertanian, perkebunan, sumber daya mineral, logistik, infrastruktur, properti, perbankan, reksadana, media, consumer, hingga makro-ekonomi, menjadi kumpulan database di duniaindustri.com.

Per awal April 2017, detektif industri juga dilengkapi tools (instrumen analisis) untuk melakukan market intelligence (competitor intelligence) dengan lebih terukur, komprehensif, dan berkesinambungan. Duniaindustri.com juga memperluas coverage basis data dan database spesifik guna menangkap seluruh aktivitas industri di seluruh sektor usaha di Indonesia.




Sumber: di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 153 database, klik di sini
** Butuh 20 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
**** Butuh copywriter specialist, klik di sini
***** Butuh content provider, klik di sini

Perkembangan Pandangan Eropa tentang Kelapa Sawit Indonesia

Duniaindustri.com (April 2018) BALI – Uni Eropa dinilai mustahil melarang penggunaan minyak sawit, terutama untuk produk pangan, karena alternative substitusi justru bermasalah serta sulit menggantikan volume pasokan yang begitu besar dalam waktu singkat. Hal itu diungkap Chairman LMC International, James Fry, dalam konferensi pers yang diselenggarakan di sela-sela ICOPE 2018.

“Jika masyarakat melihat realitas hari ini, saya yakin mustahil bagi Eropa untuk secara mudah menggantikan minyak sawit,” ujar James. James Fry merupakan salah satu pihak yang membuat kajian deforestasi sebagai rujukan bagi Parlemen Eropa.

Menurut dia, dalam laporan Komisi Eropa saat ini juga terjadi beberapa diskusi dan pertentangan. “Jika Eropa mem-banned minyak sawit seluruhnya, secara mendadak Anda akan kehilangan pasar sekitar 6-7 juta ton, kemudian timbul pertanyaan apa yang akan menggantikannya?” tanyanya.

Fry menerangkan, minyak nabati yang potensial menggantikan minyak sawit adalah soyabean. “Tapi soyabean juga bermasalah. Konsumen Eropa tidak akan konsumsi soyabean yang merupakan modifikasi genetik. Karena harus dipasang label khusus, dan supermarket tidak suka dengan label ini,” paparnya.

Di sisil ain, tambah dia, begitu banyak produk makanan berbasis palm kernel oil. Jika digantikan oleh soyabean, maka akan timbul kebencian yang lebih besar di kalangan LSM di Eropa karena merupakan modifikasi genetik. “Jadi soyabean oil mengandung masalah,” ucapnya.

Selain soyabean, dia menerangkan, alternative substitusi minyak sawit adalah rapeseed oil. Eropa memproduksi rapeseed oil, tapi tidak cukup menggantikan volume minyak sawit. Tidak logis impor rapeseed atau yang setara yakni minyak kanola dari Kanada dan Australia. Minyak nabati ini juga hasil modifikasi genetik. Kecuali jika Eropa berani menjadi pembeli besar minyak alternative dan mendorong kenaikan harga minyak dari modifikasi genetik serta membawanya ke Eropa.

“Tapi saya yakin konsumen di Eropa tidak akan senang, jika mendadak semua produk pangan yang dia konsumsi mengandung modifikasi genetik,” paparnya.

Eddy Esselink, Ketua Aliansi Sawit Eropa (EPOA), juga menilai tidak logis dan mustahil untuk menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati lainnya.“Penggunaan minyak sawit sudah sangat luas di produk-produk yang dikonsumsi masyarakat Eropa. Tidak mungkin menggantikannya secara mendadak,” paparnya.

Menurut Esselink, EPOA dibentuk pada 2013 untuk mematahkan stigma negative tentang minyak sawit. “Komitmen EPOA adalah mencapai sawit berkelanjutan di Eropa dengan cara memberi inisiatif di seluruh Eropa,” ujar Esselink.

Ia juga menyebut public perlu mendengar kisah lengkap tentang perkembangan sawit. Menurutnya, kebutuhan minyak nabati akan terus meningkat seiring dengan penambahan populasi di dunia. Untuk itu keberlanjutan sektor sawit perlu dijaga. Ada sederet ide kunci pendorong keberlanjutan sektor sawit yang dilontarkan Esselink.

Tiga di antaranya adalah tanggung jawab menjaga rantai pasok, kolaborasi, dan memastikan efektivitas dampak keberlanjutan. Dari seluruh ide kunci yang dilontarkan, Program Manager Sustainable Development MVO itu member penekanan pada kolaborasi. “Hasil positif bias dicapai apabila kolaborasi muncul dari hasil kerjasama yang bagus dengan rantai pasok,” paparnya. Semua inisiatif yang diluncurkan parapemangku kepentingan di Eropa itu juga sejalan dengan 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).

Isu kelapa sawit berkelanjutan menjadi bahasan utama dalam konferensi internasional tentang kelapa sawit dan lingkungan atau International Conference on Oil Palm and the Environment (ICOPE) 2018 yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, 25-27 April 2018. Lebih dari 400 delegasi dari 30 negara hadir untuk membahas isu-isu strategis tentang keberlanjutan industri kelapa sawit.

Isu Sustainable Palm Oil 


Chairman ICOPE 2018 JP Caliman, menjelaskan ICOPE telah mendapatkan pengakuan global dalam komunitas ilmiah sebagai sumber daya yang berguna dan tidak bias untuk hal-hal yang berkaitan dengan produksi minyak sawit dan keberlanjutan. ICOPE adalah satu-satunya konferensi internasional yang didedikasikan untuk kelapa sawit dan lingkungan dengan jumlah peserta sebesar itu.

“ICOPE dimulai 11 tahun yang lalu oleh tiga mitra yang berbagi nilai yang sama untuk tujuan mencapai keberlanjutan industri kelapa sawit, bersemangat untuk bekerja dalam kolaborasi, dan merengkuh kepercayaan dalam sains,” ujarnya dalam sambutan pembukaan ICOPE 2018.

Franky Oesman Widjaja, Chairman dan CEO Sinar Mas Agribusiness and Food, menambahkan ICOPE 2018 juga bertujuan untuk membahas masa depan industri kelapa sawit. “Komunitas global semakin mempertanyakan sektor minyak kelapa sawit tentang kemampuannya untuk menghentikan deforestasi, memberikan mata pencaharian positif dan berkontribusi untuk memberi makan populasi dunia yang terus tumbuh secara berkelanjutan.Selama ICOPE 2018, saya yakin kita bisa bersama-sama menunjukkan kepada dunia apa yang sudah kita lakukan dan bagaimana masa depan yang berkelanjutan untuk kelapa sawit,” ujarnya.

Untuk mencapai kesuksesan, lanjut dia, seluruh pihak yakni akademisi, pemain industri, pemerintah, pelanggan, konsumen, anggota masyarakat, LSM dan ilmuwan harus bersatu dan selaras pada pemahaman dan tujuan bersama. “Ada persepsi publik bahwa sektor minyak sawit tidak peduli dengan lingkungan atau jutaan orang yang membentuk industri ini.Saya mengerti mengapa persepsi ini ada. Seperti industri lain, kami memiliki sejarah yang bagus. Dan saya percaya persepsi ini tidak dibenarkan sekarang.Perubahan sedang terjadi, di perusahaan saya sendiri dan di seluruh sektor,” katanya.

Menurut Franky, keberlanjutan hanya dapat dicapai ketika ada keseimbangan antara peluang ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan sosial. “Masalah ini menjadi kunci dari sektor minyak sawit berkelanjutan dan merupakan komponen kunci dari tema untuk ICOPE 2018 yakni Solusi untuk Produksi Lokal,” paparnya.

Untuk mencapai ketahanan pangan, lanjut dia, harus diberikan peluang ekonomi yang difokuskan untuk memberdayakan petani kecil. Pada tahun 2050, akan ada 10 miliar orang yang perlu diberi makan. “Diperkirakan dibutuhkan 200,25 juta ton minyak nabati untuk membantu memberi makan orang-orang ini.Dari mana asalnya?Jika Anda memilih minyak kedelai, Anda akan membutuhkan 445 juta hektar lahan pertanian.Jika Anda memilih kelapa sawit, hanya 40 juta hektar lahan pertanian yang akan dibutuhkan,” jelasnya.

Dia menjabarkan industri minyak kelapa sawit merupakan industri utama dan penting di Indonesia. Sektor industri ini merupakan mesin ekonomi yang menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan jutaan orang Indonesia. “Industri minyak sawit mempekerjakan 21,2 juta orang secara langsung dan tidak langsung, menghasilkan US$ 21,25 miliar dari ekspor pada 2017,” ucap Wakil Ketua Kadin Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan itu.

Terlebih lagi, lanjut dia, sector industry ini menyediakan pendidikan dasar dan perawatan kesehatan bagi orang yang bekerja dan tinggal di sekitar perkebunan.Setiap 10.000 hektar perkebunan kelapa sawit memiliki sekolah dan klinik. “Anda dapat membayangkan berapa banyak sekolah dan klinik yang dibangun di daerah terpencil yang diuntungkan oleh masyarakat di sekitar area tersebut,” pungkasnya.(in depth news/tim redaksi 01*)

Sumber: klik di sini


* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 153 database, klik di sini
** Butuh 20 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
**** Butuh copywriter specialist, klik di sini
***** Butuh content provider, klik di sini

Kamis, 19 April 2018

Database Tren Penjualan Sepeda Motor di Kuartal I 2018

Penjualan sepeda motor merek Yamaha dan Kawasaki tercatat melonjak pada kuartal 1 2018 secara tahunan, melampaui tiga merek lainnya yang tercatat membukukan pertumbuhan penjualan negatif. Penjualan sepeda motor merek Yamaha tercatat naik sebesar 19,56% dan Kawasaki tumbuh 31,58%.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), total penjualan kendaraan roda dua di Indonesia pada kuartal 1 2018 tumbuh sebesar 4% menjadi 1,46 juta unit dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 1,4 juta unit. Kenaikan penjualan ditopang gencarnya promosi yang dilakukan merek serta hadirnya model baru yang mendorong minat beli konsumen.

Dari jumlah itu, ternyata peta persaingan merek sepeda motor makin menghangat. Sepeda motor merek Honda, market leader di Indonesia, justru mencatat penurunan penjualan di kuartal 1 2018 sebesar 0,36% menjadi 1,069 juta unit dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 1,073 juta unit.

Sedangkan Yamaha, market leader kedua, mencatatkan kinerja positif sebesar 19,56% menjadi 341.544 unit di kuartal 1 2018 dibanding periode yang sama tahun lalu 285.668 unit. Demikian juga Kawasaki yang membukukan pertumbuhan 31,58% menjadi 31.934 unit dari sebelumnya 24.269 unit.

Sementara penjualan tiga merek kendaraan roda dua lainnya pada tiga bulan pertama tahun ini tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Distribusi penjualan Suzuki tercatat lebih rendah 18,80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni dari 18.015 unit menjadi 14.628 unit. Adapun penjualan kendaraan roda dua merek TVS mencatatkan kinerja lebih rendah 77,11% pada tiga bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pada Januari-Maret 2018, TVS tercatat hanya menjual 92 unit kendaraan roda duanya di pasar Indonesia. Sementara pada Januari-Maret 2017, TVS melakukan distribusi hingga 402 unit sepeda motor.

Meski tercatat menurun, PT Astra Honda Motor (AHM) masih optimistis meraup pertumbuhan penjualan positif tahun ini. Thomas Wijaya, Direktur Marketing PT Astra Honda Motor menilai masuk kuartal II 2018 pasar mulai tampak naik. “Kami lihat di semester satu ini, terutama kuartal dua cenderung ada kenaikan,” ungkapnya.

Masuk kuartal II dengan momentum lebaran, Astra Honda Motor berharap dapat menggenjot penjualan sepeda motor. “Untuk itu kami masih optimis volume sekitar 4,4 juta-4,6 juta unit tahun ini,” tutur Thomas.

Review Penjualan 2017

Penjualan sepeda motor domestik mencapai 5.886.103 unit pada 2017, turun 0,7% dari 2016 sebanyak 5.931.285 unit. Jumlah itu sedikit di bawah target yang dipatok Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) sebanyak 5,9 juta unit.

Pasar sepeda motor domestik sebenarnya membaik memasuki paruh kedua tahun 2017. AISI menaikkan target penjualan motor dari 5,75 juta unit menjadi 5,9 juta unit. Namun, jebloknya penjualan pada Desember 2017 membuat target baru AISI tak tercapai.

Berdasarkan data AISI, penjualan motor pada Desember 2017 hanya 415.996 unit, terendah sejak Juni 2017. Jumlah itu melorot 24,4% dari November 2017 sebanyak 550.303 unit dan 5% dari bulan sama 2016 sebanyak 437.764 unit. Hal itu dipicu pendeknya hari kerja pada bulan Desember 2017 seiring dengan adanya libur Natal dan menjelang Tahun Baru 2018.

Sementara itu, ekspor sepeda motor pada 2017 mencapai 431.187 unit. Secara total penjualan domestik maupun ekspor mencapai 6.317.290 unit, naik 1,64% dibandingkan 2016 sebanyak 6.215.350 unit. Data itu menyebutkan, Honda mencetak penjualan 4.385.888 unit, tertinggi di Indonesia, dengan pangsa pasar 74,5%, diikuti Yamaha 1.348.211 unit, Kawasaki 78.637 unit, Suzuki 72.191 unit, dan TVS 1.176 unit.

Segmen motor terlaris masih dipegang skuter otomatik (skutik). Pada 2017, penjualan skutik mencapai 4.848.540 unit atau 82,37%, diiikuti sport 541.159 unit (9,2%), bebek 496.104 unit (8,43%). Skutik diminati lantaran praktis dan cocok dengan kondisi jalanan di perkotaan. Selain itu, saat ini, skutik makin irit bahan bakar, seiring dirilisnya teknologi injeksi.

Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala, menilai penjualan motor domestik tahun lalu cukup baik, walau sedikit di bawah target. Karenanya, AISI sempat mengoreksi target penjualan menjadi 5,75 juta unit dari 5,9 juta unit, seiring jebloknya penjualan semester I. Hal itu salah satunya dipicu kenaikan biaya pengurusan surat-surat kendaraan bermotor, seperti BPKB dan STNK.

Tahun 2018, AISI menargetkan penjualan motor domestik 6,1 juta unit. Target ini realistis, jika melihat kondisi penjualan yang mulai stabil semester II-2017. Target tersebut bisa tercapai asalkan situasi tetap kondusif, terutama di tahun politik. Sementara itu, ekspor ditargetkan naik 30-40%, karena produk Indonesia masih cukup kompetitif untuk bersaing di pasar global.

“Pemerintah sudah berjanji tidak ada kenaikan harga listrik dan BBM. Selain itu, tidak ada kenaikan biaya pengurusan STNK ataupun BPKP, sehingga diharapkan bisa membangkitkan daya beli,” ujar Sigit Kumala.(*)

Sumber: klik di sini


* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 153 database, klik di sini
** Butuh 20 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
**** Butuh copywriter specialist, klik di sini
***** Butuh content provider, klik di sini